12 Jul 2016

The 7 Checklist

By Ps. Philip Mantofa - Sharing dari Linda Qiu

Dalam memilih pasangan hidup yang sempurna kiranya kita berani dan berpengetahuan secara objektif dalam memilih. Karena Allah ialah sumber dari segala yang sempurna, namun memilih dengan sempurna adalah tanggung jawab kita kepadaNya.

1. Commitment to grow personally with Christ
Komitmen bertumbuh secara pribadi dalam Kristus (Filipi 2:12).
Garis bawahi bertumbuh secara pribadi. Artinya carilah orang yang imannya aktif, pribadinya berjalan bersama dengan Tuhan serta bukan orang yang bergantung imannya maupun hidupnya kepada kita. Lihat pribadinya bukan dari status orang tersebut saja sebagai Kristen tetapi lihat juga pertumbuhan imannya secara pribadi didalam Tuhan.

2. Vision to please God
Visi hidupnya untuk menyenangkan Tuhan (Filipi 1: 21-22a)
Lihat apakah hidupnya produktif dan tahu arah hidupnya mau kemana. Punya sasaran untuk Tuhan (Lewi/Fulltimer)-imam atau punya sasaran dalam Tuhan (sekuler)-raja. Orang tersebut tahu arah hidupnya bagaimana kedepannya, punya gambaran apa yang akan hendak dicapai selama 1 tahun kedepan, 5 tahun kedepan, 10 tahun kedepan dan hal yang ingin dicapai oleh orang tersebut. Orang tersebut bisa menggambarkan apa yang hendak dicapainya itu dengan jelas serta punya semangat antusias dalam menceritakannya, sehingga Tuhan senang dengan visinya. Misal salah satunya orang tersebut saat membuka usaha akan menyisihkan sebagian hasil yang di dapat untuk memperluas kerajaan Tuhan dan pekerjaaan Tuhan. Oleh karena itu, kita perlu dahulu mengenalnya sebelum ke arah selanjutnya.

3. Honest (Lukas 16:10)
Ujilah orang tersebut baik pria maupun wanita pada perkara kecil, kita dapat melihat orang tersebut terbiasa akan kebohongan atau tidak. Ingat jujur itu berhubungan dengan ketulusan. Kita yang menilai apakah orang tersebut tulus atau tidak bukan dari pernyataan orang tersebut, perkataan orang terdekat maupun sekitarnya. Maka, itu kita perlu mengenalnya terlebih dahulu. Ingatlah ketulusan bukan kebodohan, ketulusan tidak berbelit-belit. Cerdas atau cerdik itu tidak berbelit-belit.

4. Mature & Responsible  (1 Korintus 13:11)
Kedewasaaan bukan dilihat dari umur, tetapi umur juga merupakan ukurannya namun bukan segalanya. Kenalilah pandangan hidupnya dengan cara hidupnya teratur dan tertib. Lihat action dan pandangan hidupnya. Ingat bila seorang itu berjanji apakah menepatinya atau tidak. Bergaul dahulu untuk melihat isi dari kedewasaan dan tanggung jawabnya dalam keseharian hidupnya. Satu hal jika terlalu banyak membicarakan dirinya sendiri tanpa mempertanyakan tentang Anda, maka orang tersebut belum dewasa. Misal: Jika kita akan memberi penilaian pada pria, bagaimana sikapnya gentlemen atau tidak, lihat bagaimana sikapnya ketika dihadapkan pada ada wanita yang membawa beban ditangannya, terlepas wanita itu cantik atau tidak, pria itu tertarik atau tidak. Apakah sikap pria tersebut hanya berpangku tangan atau siaga dalam membantu wanita tersebut.

5. Healthy Self Image 
Gambar diri yang sehat (Matius 22:39)
Tidak ada seorang yang gambar dirinya 100% sempurna, karena gambar diri kita akan terus diperbarui. Namun, lihat bagaimana orang tersebut mengasihi dirinya ingat "bukan mengasihani". Lihat apakah dia bisa merawat dirinya, menangani dirinya, merawat barang-barang yang ada dalam kamarnya, apakah kamarnya rapih dan bersih minimal tidak seperti kapal pecah ya selama 365 hari sudah pernah disapu, dipel dan dilap. Bukan pribadi yang posesif atau pengekang yang tidak rasional. Kenallah terlebih dahulu orang tersebut benar-benar bisa merawat dan mengasihi dirinya atau tidak, seorang yang tidak bisa mengasihi dirinya mustahil bisa mengasihi kita.

6. Positive Attitude in Life (Filipi 4:4)
Bergaullah terlebih dahulu untuk melihat bagaimana sikapnya dalam pergaulannya kesehariannya. Lihat bagaimana sikapnya menghadapi kesulitan dan masalah, bagaimana emosinya. Attitude memang akan selalu diperbaharui, tetapi ambillah pasangannya yang attitudenya minimal scorenya 60%. Jika belum berubah sebaiknya jangan ambil dia sebagai pasanganmu.

7. Personal Chemistry (Kidung Agung 8:5-7)
Menikahlah dengan bestfriend mu dimana kalian sudah terjalin friendship dimana saling menghormati, menghargai dan menjaga. Ingat yah, bestfriend tidak sama dengan old friend. Old friend memang jauh lebih mengenal kita daripada bestfriend tetapi menikah dengan bestfriendlah dimana kalian saling memiliki ketertarikan. Jika tidak ada perasaan cinta yang tumbuh maka janganlah membawa hubungan kedalam pernikahan karena akan masuk pada pencobaan moral nantinya (selingkuh).

Point satu 1 s.d 6 berhubungan dengan karakter dimana adalah ini adalah untuk memastikan teman hidup Anda secara objektif tanpa terpengaruh oleh perasaan. Sedangkan point 7 adalah cinta, yang berkenaan dengan hal yang akan membawa masuk dalam pernikahan. 

Semoga pengetahuan tentang 7 checklists dalam memilih pasangan hidup yang sempurna dapat memberikan kita pengetahuan dan hikmat dalam membuat keputusan untuk memilih pasangan hidup yang sempurna, serta dapat dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. Tuhan Yesus memberkati.

5 Questions to Ask Before You Fall in Love

By 

Is falling in love worth the risk? Should I guard my heart? These are questions every people asks when she/he thinks they’re falling in love. There were so many things running through my head as our relationship progressed. Did I really want to fall in love now? Is this just convenient? How could I be sure she/he was the one?

If I had asked myself five simple questions. If the answers to these questions are positive, she/he may just be worth lowering your defenses and falling in love with.

1. What type of trail does she/he leave behind?
Does she/he leave a trail of negative or positive outcomes? Did her/him past relationships fail due to her/him actions? Does she/he still have a good relationship with previous employers or did she/he leave in a negative way? Don’t get me wrong: people can change. The problem is most don’t. Most people have previous relationships that didn’t work out. There is usually a pattern, and patterns typically continue to happen. So if she/he cheated on someone else with you, don’t be surprised if she/he cheats on you in the future. If she/he settled for her past relationship and left as soon as something better came along, take notice.

"Study her/him past for a glimpse into her/him future."

2. Who does she/he spend time with?
If all her friends are boring, make sure you are okay with boring. If all her friends are partiers, make sure you are okay with partying.

"Take a look at who she/he chooses to spend time with and it will give you a clue as to who she/he will become."

3. Is she/he focused on her/himself or others?
This gets to the core of who she/he is as a person. Does she/he have compassion? Is she/he forgiving of others or overly judgmental? Is it always about her/him? In order for relationships to work, the people involved cannot be selfish. Selfishness is the seed that blooms into action. Selfish action eventually causes most relationships to fail. Tough times will come. If she/he’s selfish, she/he is more likely to quit than to try to work things out when the tough times come. Again, tough times will come. Be prepared.

"If she/he is focused on others, she/he will likely do the same in your relationship."

4. Opposites may attract, but similarities make them stay
How similar are you? Do you share similar beliefs spiritually or politically? These beliefs usually strengthen over time. This means any divide between you could grow wider and cause friction. Do you have a similar vision of your future? If she/he wants kids and you don’t, you will eventually have a problem.

"It is exciting to date someone who is completely opposite of you. Just understand that that excitement will eventually wear off."


5. Does she/he inspire you to be a better person?

Have you thought about changing some things you’ve always done? Are you more focused on your future since you started dating her/him? Are you more health-conscious, goal-oriented, or motivated to be a better man because of her/him?
If she/he is can be your most trusted adviser and personal cheerleader. She/he can encourages you when you need encouragement. And it hurts when you disappoint her/him because you want to be the best you can be for her/him. She/he inspires you and makes you strive to grow in all areas of your life.


"If she/he inspires you to be a better person, then she/he just might be the one."

11 Jul 2016

Take Your Time


MAKAN BERSAMA KELUARGA ITU KEGIATAN SEDERHANA, NAMUN BERDAMPAK BESAR.


Sebagian orang tua masih memikirkan persoalan kantor saat sudah berada di rumah. Mereka jadi kurang memperhatikan pasangan, anak, atau keperluan rumah tangga. Mereka jarang meluangkan waktu untuk menolong anak mengerjakan PR, berbicara dengan anak dan terlibat dengan kehidupan mereka, mengunjungi orangtua, menolong tugas rumah tangga, dan makan bersama keluarga.

Menurut suatu penelitian, makan bersama keluarga menjauhkan anak dari rokok, alkohol, dan nilai rendah di sekolah. Semakin sering seluruh keluarga duduk makan bersama, semakin kurang keterlibatan anak dengan zat adiktif, gangguan emosi, atau kinerja yang buruk di sekolah.

Yesus memandang penting makan bersama. Alkitab mencatat banyak peristiwa Yesus makan bersama dengan kedua belas murid-Nya, orang yang dimenangkan seperti Lewi dan Zakheus, dan makan bersama orang banyak. Sampai malam terakhir menjelang penyaliban pun, Dia meluangkan waktu makan Paskah bersama dengan para murid. Saat makan inilah Yesus mengatakan bahwa salah seorang dari murid-Nya akan menyerahkan Dia. Melalui perjamuan Paskah ini, Yesus mengadakan Perjamuan Suci, yang selalu kita peringati sampai sekarang sebagai tanda peringatan akan pengampunan dosa yang sudah Yesus Kristus anugerahkan.

Para orang tua kiranya berperan aktif dalam kehidupan keluarga. Bagi anggota keluarga yang lain, doronglah para pasangan untuk lebih terlibat dalam urusan rumah tangga. Salah satunya dengan mengembangkan kebiasaan makan bersama guna memperkuat keharmonisan keluarga. --Richard Try Gunadi


MENGAPA TIDAK BELAJAR MENGEMBANGKANNYA SEBAGAI KEBIASAAN BAIK?

--------------------------------------------------------------
Bacaan: Matius 26:17-25
-------------------------------------------------------------
Bacaan setahun: Mazmur 92-100
--------------------------------------------------------------

Menurut saya pribadi ini adalah bagian yang paling saya rindukan, terlebih ketika kita sudah menjalani hidup terpisah dari keluarga. Saat-saat makan bersama adalah saat yang paling menyenangkan. Duduk bersama. Bertukar cerita. Tidak selalu ada hal serius yang dibahas, hanya dengan saling melemparkan candaan usil yang tidak penting saja sudah merupakan QUALITY TIME yang begitu berharga dan dirindukan.
Sesuatu yang sangat mudah & sederhana, karena terlalu sederhana sampai sering diabaikan. Meluangkan waktu, satu jam saja, bahkan terkadang tidak sampai satu jam, bersama keluarga, bukanlah hal sulit sebenarnya, sempatkan! Toh, SEDIKIT (sekali) waktu dan tenaga yang kalian korbankan untuk hanya sekedar duduk dan makan, dan itu bukan untuk orang lain, melainkan untuk keluarga kalian sendiri. Take your time guys and you gonna really loved and missed it.