Logo
8 Des 2011
First Paper Clay Course in Indonesia
Indonesia punya tempat kursus kerajinan paper clay pertama yaitu Lotus. Lotus berada di salah satu pusat perbelanjaan di Surabaya, tepatnya Plasa Surabaya lantai II nomer 103. Tempat itu adalah tempat pertama Lotus berdiri pada tahun 1991 sampai saat ini. Erlina sang pemilik, mengajar dengan dua pegawainya saat ini. Beliau melatih sendiri setiap pegawai yang bekerja di tempatnya, sampai mereka mahir. Wanita asli Surabaya ini menyukai seni lukis sejak muda. Karena itu saat mengunjungi adiknya di Jepang dan melihat kerajinan paper clay, beliau tertarik dan mendalaminya di Jepang. Sampai akhirnya beliau mendirikan paper clay course pertama di Indonesia 20 tahun lalu.
Wanita yang telah menikah ini tidak mempunyai rencana untuk membuka cabang karena paper clay hanya bagian dari kegemarannya sekedar untuk mengisi waktu luang. Murid-murid yang mendapatkan ilmu darinya telah banyak yang berhasil dan membuka toko sendiri. Banyak juga dari murid-muridnya yang mendalami lebih dalam tentang paper clay sampai ke negara sakura setelah selesai mengikuti kursus darinya. Menurutnya, paper clay tidak butuh suatu keahlian khusus, hanya saja harus sabar, telaten dan sedang dalam mood yang baik ketika membuatnya.
Erlina membuka kursus ini dengan tingkatan yang berbeda-beda, dari yang paling dasar sampai mahir. Beliau pun menyediakan alat dan bahan-bahannya untuk memudahkan murid-muridnya. Untuk 2 tahun kursus yang setiap harinya tidak dibatasi jamnya, beliau membuka harga Rp 1.000.000,00. Sedangkan untuk per 10 jam beliau membuka harga Rp 300.000,00. untuk tingkat dasar, para murid akan diajarkan cara membuat boneka tempel, tempelan kulkas, kotak tissue sampai kotak perhiasan. Jika dianggap sudah mahir maka akan di naikkan tingkatannya ke tahap terampil. Di tahap ini murid-muridnya akan diajarkan membuat keranjang bunga dan tempat surat. Sedangkan untuk tahap mahir yang akan di ajarkan adalah membuat patung dengan detail yang lebih rumit.
Karya yang dibuat dan di pajang di dalam tokonya tidak ada yang dijual, melainkan hanya contoh untuk para murid-muridnya. Beliau menjual karyanya hanya jika ada customer yang memesan dan itu pun bukan dia yang akan mengerjakan melainkan murid-muridnya. Harga jual dari paper clay itu adalah Rp 200.000,00 untuk hiasan kulkas dan gantungan-gantungan. Yang paling mahal adalah patung-patung wanita yang memakai gaun-gaun ala putri kerajaan, beliau memasang harga sekitar Rp 1.500.000,00 tergantung kesulitan dan detail patung tersebut.
Rasa Tanggung Jawab Seorang Kepala Keluarga
Di jaman yang serba mahal ini, mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah. Terlebih untuk seseorang yang berpendidikan hanya sampai tahap Sekolah Menengah Atas saja. Hal ini membuat pekerjan apa pun dilakukan demi sesuap nasi. Bapak Taufik salah satu contohnya. Pria yang lahir pada 1967 ini bekerja sebagai satpam di wilayah Siwalankerto 8 atau yang biasa disebut padang pasir. Tak hanya itu, untuk mendapatkan penghasilan tambahan ia rela berpanas-panasan dan hujan-hujanan untuk menjadi tukang parkir bagi para mahasiswa di Universitas Kristen Petra Surabaya.
Pria asli Surabaya ini mengatakan bahwa jika hanya mengandalkan Upah Minimum Regional (UMR) menjadi satpam, itu tidak akan cukup untuk membiayai hidup keluarganya. Terlebih empat orang anaknya masih bersekolah dan membutuhkan biaya yang cukup besar. Dari pekerjaannya menjadi tukang parkir, ia bisa mendapat tambahan uang sekitar Rp 180.000,00 – Rp 200.000,00 per harinya. “Uang ini cukup lumayan untuk membantu biaya hidup keluarga saya, walau pun saya harus mengeluarkan tenaga dan keringat lebih.” Ujar pria 44 tahun ini.
Ketika diminta menceritakan apa saja duka yang ia alami selama 14 tahun menjalani pekerjaan sebagai tukang parkir, pria yang mempunyai keinginan berwirasusaha ini mengatakan bahwa, jika terjadi sesuatu atau kehilangan pada mobil maka ia-lah orang yang disalahkan. Selain itu jika liburan tiba maka pemasukkan tambahannya pun akan ikut hilang. “Sebenarnya saya sempat melamar dua kali di Universitas Kristen Petra, tapi tidak ada panggilan. Jadi mau tidak mau ya saya melakukan pekerjaan ini.” Ceritanya.
Bapak Taufik pun sempat berbagi pengalaman serunya saat ia tampil di acara Empat Mata milik salah satu stasiun televisi swasta dulu. Hal ini dikarenakan wajahnya yang mirip Tukul Arwana dan ini merupakan suatu kebanggan tersendiri untuknya. Melalui acara ini pun ia mendapat uang senilai Rp 2.000.000,00.
UKP Peduli Kanker Payudara
Universitas Kristen Petra Surabaya kembali menyelenggarakan suatu event kepedulian pada 28 Oktober 2011 yang bertemakan Breast Shout. Event ini diselenggarakan di ruang AVT 502 gedung T Universitas Kristen Petra Surabaya. Breast Shout diselenggarakan untuk memperingati bulan kanker payudara yang jatuh tepat pada bulan Oktober, dan juga untuk kembali mengingatkan masyarakat akan pentingnya gaya hidup sehat dan pemerikasaan dini terhadap kanker payudara. Karena kanker payudara telah menjadi penyebab kedua kematian terbesar di seluruh dunia setelah kanker paru-paru.
Breast Shout yang dikemas dengan bentuk talk show ini mendatangkan seorang narasumber yang ahli dibidangnya, yaitu dr. Wiwien Ristanto Sp.B dari Rumah Sakit Ongkologi Surabaya. Selain itu juga seorang mantan penderita yang dengan lapang hati berbagi pengalamannya akan kanker payudara yang dulu dideritanya, yaitu Irmaya. Tak hanya itu Political Officer Konjen Amerika Serikat, Michelle Morales pun turut hadir dalam event ini.
Talk show ini tak hanya dihadiri para mahasiswa Universitas Kristen Petra saja, tetapi juga beberapa mahasiswa dari universitas lain, para ibu-ibu dan wartawan dari beberapa surat kabar pun turut hadir. Acara pun berlangsung cukup menarik karena dengan penjelasan-pejelasan dari dr. Wiwien peserta yang hadir kembali diingatkan akan faktor-faktor penyebab kanker payudara seperti radiasi, mutasi gen, mensturasi di usia yang terlalu dini atau menopause diusia yang terlalu tua, selain itu pola hidup yang jarang berolahraga, minum-minuman keras dan rokok pun menjadi salah satu faktornya.
Tak hanya itu, dr. Wiwien pun mengatakan bahwa 97,5% penderita kanker payudara dapat tetap bertahan jika melakukan pendeteksian dini. Oleh sebab itu beliau pun berbagi tips-tips mudah bagaimana mendeteksi dini akan kanker payudara, yaitu dengan look, feel, and aware (melihat, merasakan, dan perduli).
Setelah dr. Wiwien selesai memeberikan penjelasan, salah seorang mantan penderita, Irmaya yang hadir mulai berbagi pengalamannya mengenai kanker payudara yang dideritanya beberapa tahun lalu. Ketika selesai berbagi pengalaman dia pun mengatakan satu kalimat penutup untuk menguatkan para penderita kanker payudara, satu kalimat yang membuatnya mampu bangkit dari keterpurukannya ketika itu. “Kanker tidak boleh lebih kuat dari pada kita.” Ujarnya.
Sebelum acara selesai, peserta diberikan kesempatan bertanya pada narasumber dr. Wiwien atau pun kepada Irmaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Selain itu pun ada beberapa hadiah dalam bentuk doorprise untuk para peserta. Setelah acara selesai pun para peserta pun dapat berkonsultasi lebih mendalam dan lebih pribadi dengan dr. Wiwien.



