6 Mar 2018

Komitmen

Kalo ditanya untuk saat ini lagi pegang komitmen apa, saya jawab baca alkitab. Tahun lalu sempat gagal, tahun ini mau coba lagi. Komitmen paling dasar tapi paling susah di jalanin. Tapi, kalo yang paling dasar aja ga bisa lewatin apalagi yang paling susah kan? Salut dan terpacu banget liat orang orang yang masih muda tapi uda selesai baca alkitab 2-3 kali mengulang bahkan lebih. Lah saya, mau lewatin kitab kejadian aja kayaknya lama banget.

Tapi kali ini, dari komitmen untuk satu hal itu mengubah tatanan hidup saya. Saya komitmen setiap malam harus DUDUK, baca alkitab minimal 3 pasal, baca renungan harian, terus doa. Setelah 4 step itu sudah selesai, saya baru boleh main sosmed. Komitmen yang sederhana banget, tapi susah.
Kenapa saya tekankan pada kata duduk? Itu satu hal gampang yang susah banget dilakukan. Setelah seharian aktivitas, ketemu ranjang pengennya rebahan. Dulu mentolerir dengan bilang "kan yg penting niat ny baca alkitab, gpp lah baca sambil tiduran" dan berakhir, setiap kali baca alkitab ketiduran dan akhirnya gagal sampai di kitab ulangan. Doa pun gitu, saya dulu sering doa sambil tiduran, dan berakhir ketiduran sebelum amin.

Kenapa saya berkomitmen untuk tidak main sosmed dulu sebelum 4 komitmen saya diatas selesai? Karena berulang kali sosmedan dulu, baru baca alkitab dan doa, berakhir ga fokus dan ngantuk. Akhirnya juga buat kita pake sisa sisa tenaga kita aja untuk lebih dekat sama Tuhan. Padahal kita bisa sebenernya ngobrol dulu sama Tuhan baru melakukan hal lain. Kan lebih baik kalo kita uda selesai sama Tuhan baru main hape dan terus ketiduran. Dari pada main hp (yang sebenernya ga dilakukan pun ga ada gpp), trs ngantuk, akhirnya jadi "ah besok aja deh di rapel baca alkitab ny, besok baca lbh banyak pasal deh" tapi besoknya karena ritualnya sama, berakhirnya sama juga, ketiduran.

Ketika komitmen sederhana tadi berjalan, secara tidak langsung pola kehidupan saya juga berubah.
  1. Saya ga mau lagi pergi jalan jalan, pulang malem. Karena saya punya PR dirumah yang harus centang, 4 komitmen saya tadi. Kalo pulang kemaleman, ntar ngantuk baca alkitab, renungan sama doanya terus jdi ga konsen. 
  2. Karena ga mau pulang malam tadi, otomatis saya jadi sering menolak ajakan ajakan pergi. hasilnya jadi jauh lebih hemat, ga kecapekan, ga perlu tidur malam karena harus centang 4 komitmen diatas,  untuk hal hal yang sebenarnya ga harus dilakukan.

Pada akhirnya kalo komitmen ini nanti sampai pada goal. Saya pasti akan mendapatkan banyak hal yang bisa saya pelajari. Tentunya mimpi saya bisa selesaikan baca alkitab tercapai, dan dikasih bonus karakter yang terbentuk lebih baik lagi karena sudah bisa bertanggung jawab pada komitmen, bisa menahan godaan, hidup lebih hemat dan lebih sehat. Saya juga jadi belajar menentukan prioritas hidup, mana yang wajib dilakukan, mana yang bisa ditunda dulu, bahkan mana yang seharusnya bisa tidak dilakukan.

Hanya karena berkomitmen pada 1 hal kecil yang sederhana, banyak banget yang bisa dipelajari dan tumbuh menjadi habit didalam hidup kita.

Yuk belajar bareng, semoga bisa jadi berkat ya :)

Naik Level

Akhir-akhir ini saya sedang gila dengan yang namanya perubahan dan naik level. Saya terus mencari-cari apa yang harus saya ubah dari diri saya. Apa yang harus saya naikkan levelnya. Ketika beberapa orang mungkin merasa bahwa hidupnya super cepat sedangkan sekitarnya terasa berjalan begitu lama, saya sebaliknya. Saya merasa sekitar saya berubah dan naik level lebih cepat dari saya, dan saya ga suka dengan keadaan seperti itu. Yang tadinya saya santai dan merasa sudah ada diposisi nyaman, tiba-tiba seperti tersulut api.


Aku harus naik level

Aku harus bisa seperti mereka


Tiba-tiba semua yang dirasa cukup menjadi kurang. Setiap kesempatan ingin saya ambil. Setiap hal baru ingin saya pelajari. Seperti mengejar ketinggalan saya yang begitu jauh.

Saya buat mimpi mimpi baru, target target baru yang harus saya capai. Saya cari kekurangan saya, yang dulu saya jadikan pengecualian dan saya taruh diurutan paling belakang.
  1. Saya pengen menyelesaikan alkitab
  2. Saya pengen memperbanyak quality time dengan diri saya dan Tuhan
  3. Saya pengen naik level untuk lebih sabar
  4. Saya pengen belajar untuk menerima kritik
  5. Saya pengen naik level untuk tidak egois
  6. Saya pengen naik level didalam karir saya
  7. Saya pengen menabung lebih banyak

Saya berdoa untuk 7 hal itu dan Tuhan mau kasih semua itu berbarengan untuk saya. Betapa saya sangat diberkati punya Bapa seperti Dia kan?

Tapi... Tau kan kalo mau naik level itu bukan kayak menang jackpot? Pengen sabar, tiba tiba bangun tidur jadi orang sabar. No! Mau naik level? Tuhan seneng banget dan pasti dikasih beserta ujiannya dan ketika berhasil rasanya luar biasa amazing.

Iya, sekarang saya merasa saya sedang diproses untuk mendapatkan 7 hal yang saya doakan ini.
Saya minta,
  • menyelesaikan alkitab.
  • memperbanyak quality time dengan diri saya dan Tuhan. 
Komitmen saya langsung di uji. Dengan jam kerja yang semakin hectic, pulang malam, capek, tapi Tuhan mau liat apa saya masih ingat dan mampu menjalankan 2 hal yang saya minta itu. Saya harus berusaha lebih extra untuk menahan rasa ngantuk dan capek saya untuk tetepa baca alkitab, renungan harian, dan berdoa dengan Dia.

Saya minta,
  • naik level untuk lebih sabar
  • belajar untuk menerima kritik
  • naik level untuk tidak egois

Lagi-lagi Tuhan kasih proses untuk saya lewat kerjaan dan pertemanan saya. Saya bolak balik harus berhadapan dengan lingkungan yang bikin emosi naik, ada yang bossy, ada yang super ga nyambung, ada yang cerewet, ada yang komentator. Tapi kembali lagi saya harus belajar menahan ego saya dan lebih sabar lagi. Menerima setiap kritikan dan merenungkan, tidak berteguh pada pendapat saya dan merasa paling benar.
Saya minta,
  • naik level didalam karir saya
  • menabung lebih banyak
Disini saya diberikan 2 pilihan yang sama-sama menarik untuk karir saya. Saya rasa setiap keputusan yang saya ambil ada konsekuensinya, dan terkadang meski saya bawa dalam doa, Dia tidak mau memberikan saya jawaban, Dia hanya mau saya memilih, melakukan yang terbaik, dan berjalan didalam Dia. Ketika semua mulai berjalan, saya mulai asik dengan dunia kerja, Dia kembali ingatkan bahwa kesehatan juga mahal harganya. Dia ijinkan saya menikmati dunia baru saya, tapi Dia juga cemburu ketika saya tidak menjaga tubuh saya, memberikan sisa-sisa waktu dan tenaga saya untuk ngobrol dengan Dia. Dan saya diingatkan bahwa Dia bisa menghentikan bahkan mengambil kesenangan saya dengan berbagai cara.