11 Mar 2011

Surat Motivasi

“Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.”
Yakobus 4:14b

“Mencintaimu adalah anugerah terindah dalam hidupku yang tidak akan bisa tergantikan oleh apapun di dunia ini. Kehilanganmu adalah sejarah yang tidak akan terlupakan dalam hidupku.”
“Karena cinta hati selalu berdoa  dan karna doa hati selalu belajar untuk mencinta”
Dewa Klasik Alexander 





Masih ku simpan surat yang dia berikan kepadaku. Surat yang diberikannya sebelum ku bersenandung sebuah lagu terakhir. Lagu yang mengiringi kepergiannya.

Dear Dewantara...

Tuhan menciptakan kamu dengan pikiran yang luar biasa dan kamu juga memiliki potensi yang tak ternilai di dalam dirimu. Namun, kamu hanya akan berprestasi dalam hidup ini ketika kamu mulai bekerja keras dan menyadari bahwa apa yang sudah kamu miliki saat ini bukan hanya sekadar kebetulan atau keberuntungan belaka. Jadi, raihlah impianmu dengan kerja keras yang disertai dengan doa.

Sebagai manusia yang memiliki hati dan pikiran, kita bebas untuk memilih apa saja dalam hidup ini. Namun satu hal yang perlu kamu ingat. Kita tidak bisa memindahkan tanggungjawab kita untuk ditanggung oleh Tuhan atau orang lain karena kita harus menanggungnya sendiri. Kamu ingin meraih impianmu atau tidak, semuanya terserah kamu. Namun, yang pasti aku akan selalu berdoa agar yang terbaik yang terjadi dalam hidupmu.

Tara...

Jangan pernah menyerah pada apa pun juga ketika kamu sedang meraih impianmu. Tidak ada alasan bagimu untuk menyerah. Orang yang gagal selalu mencari-cari alasan tapi orang yang mau berhasil selalu mencari jalan. Tahukah kamu bahwa berhasil di dalam hidup ini tidak hanya sekadar berada pada tempat dan waktu yang tepat tapi juga berada pada tempat dan waktu yang salah, namun tidak pernah menyerah.

Kamu boleh memiliki impian yang besar tetapi tanpa semangat, kerja keras, ketabahan hati, tahan uji, pantang menyerah dan bersandar kepada Tuhan, maka impianmu itu hanyalah sebuah fantasi atau khayalan belaka. Kamu tidak akan pernah melihat impianmu itu menjadi nyata dalam hidupmu. Yang ada kamu hanya bisa menikmati impianmu dalam pikiran atau imajinasimu saja. Pikirkanlah ini….

Tara...
Ketika kamu mulai putus asa, ragu, lelah atau hampir diambang kegagalan, ingatlah kembali akan impian yang ingin kamu raih. Impianmu itu akan menjadi sumber inspirasi yang akan selalu menguatkan kamu dan memberi kamu sebuah motivasi yang besar. Hidup ini memang keras tapi bukan berarti kamu harus menyerah begitu saja tanpa mencoba cara yang lain. Biarlah kesuksesan yang kamu temukan pada diri orang lain menjadi cambuk untuk kamu bangkit kembali. Kalau mereka bisa berhasil kenapa kamu tidak bisa seperti mereka. Bukankah Tuhan selalu menyertai kamu?
 
Jangan pernah takut untuk meraih impianmu. Ketakutan akan berkata lari, tetapi keberanian menghentikannya dan menggantikannya dengan kata “berjuang kembali sampai selesai”. Keberanian hanya akan lahir dari hatimu ketika kamu memiliki iman, pengharapan dan tujuan dari setiap langkah kakimu. Ingat, Tuhan akan menolong kamu jika kamu mau menolong dirimu sendiri. Iman yang kamu miliki akan menghapus setiap keraguan, kekuatiran, ketakutan, keputus asaan, kelelahan dan kegagalanmu.
Tara...
Disaat semuanya terlihat gelap, kamu harus tetap melihat sisi terangnya kehidupanmu. Milikilah iman, pengharapan dan percaya diri dalam meraih impianmu. Ketiga kata ini melebihi arti sebuah kata yaitu optimis. Dan yang membentuk percaya diri adalah sikap hatimu terhadap rasa percaya diri itu sendiri. Teruslah melangkah maju dan mengejar impianmu. Inilah saatnya impianmu yang lama terkubur dipikiranmu menjadi sebuah kenyataan. Akan selalu ada yang berdoa untukmu agar kamu bisa berhasil dalam setiap meraih semua impianmu. Jangan pernah menyerah sekali pun seolah-olah Tuhan belum campur tangan dalam persoalan yang sedang kita hadapi.

Dari yang mencintaimu,

Agnes

######



Masih ku simpan surat yang dia berikan kepadaku. Surat yang diberikannya sebelum ku bersenandung sebuah lagu terakhir. Lagu yang mengiringi keprrgiannya.
Dear Dewantara…

Tuhan menciptakan kamu dengan pikiran yang luar biasa dan kamu juga memiliki potensi yang tak ternilai di dalam dirimu. Namun, kamu hanya akan berprestasi dalam hidup ini ketika kamu mulai bekerja keras dan menyadari bahwa apa yang sudah kamu miliki saat ini bukan hanya sekadar kebetulan atau keberuntungan belaka. Jadi, raihlah impianmu dengan kerja keras yang disertai dengan doa.
Sebagai manusia yang memiliki hati dan pikiran, kita bebas untuk memilih apa saja dalam hidup ini. Namun satu hal yang perlu kamu ingat. Kita tidak bisa memindahkan tanggungjawab kita untuk ditanggung oleh Tuhan atau orang lain karena kita harus menanggungnya sendiri. Kamu ingin meraih impianmu atau tidak, semuanya terserah kamu. Namun, yang pasti aku akan selalu berdoa agar yang terbaik yang terjadi dalam hidupmu.
Tara…
Jangan pernah menyerah pada apa pun juga ketika kamu sedang meraih impianmu. Tidak ada alasan bagimu untuk menyerah. Orang yang gagal selalu mencari-cari alasan tapi orang yang mau berhasil selalu mencari jalan. Tahukah kamu bahwa berhasil di dalam hidup ini tidak hanya sekadar berada pada tempat dan waktu yang tepat tapi juga berada pada tempat dan waktu yang salah, namun tidak pernah menyerah.
Kamu boleh memiliki impian yang besar tetapi tanpa semangat, kerja keras, ketabahan hati, tahan uji, pantang menyerah dan bersandar kepada Tuhan, maka impianmu itu hanyalah sebuah fantasi atau khayalan belaka. Kamu tidak akan pernah melihat impianmu itu menjadi nyata dalam hidupmu. Yang ada kamu hanya bisa menikmati impianmu dalam pikiran atau imajinasimu saja. Pikirkanlah ini….
Tara…

Ketika kamu mulai putus asa, ragu, lelah atau hampir diambang kegagalan, ingatlah kembali akan impian yang ingin kamu raih. Impianmu itu akan menjadi sumber inspirasi yang akan selalu menguatkan kamu dan memberi kamu sebuah motivasi yang besar. Hidup ini memang keras tapi bukan berarti kamu harus menyerah begitu saja tanpa mencoba cara yang lain. Biarlah kesuksesan yang kamu temukan pada diri orang lain menjadi cambuk untuk kamu bangkit kembali. Kalau mereka bisa berhasil kenapa kamu tidak bisa seperti mereka. Bukankah Tuhan selalu menyertai kamu?
Jangan pernah takut untuk meraih impianmu. Ketakutan akan berkata lari, tetapi keberanian menghentikannya dan menggantikannya dengan kata “berjuang kembali sampai selesai”. Keberanian hanya akan lahir dari hatimu ketika kamu memiliki iman, pengharapan dan tujuan dari setiap langkah kakimu. Ingat, Tuhan akan menolong kamu jika kamu mau menolong dirimu sendiri. Iman yang kamu miliki akan menghapus setiap keraguan, kekuatiran, ketakutan, keputus asaan, kelelahan dan kegagalanmu.
Tara…
Disaat semuanya terlihat gelap, kamu harus tetap melihat sisi terangnya kehidupanmu. Milikilah iman, pengharapan dan percaya diri dalam meraih impianmu. Ketiga kata ini melebihi arti sebuah kata yaitu optimis. Dan yang membentuk percaya diri adalah sikap hatimu terhadap rasa percaya diri itu sendiri. Teruslah melangkah maju dan mengejar impianmu. Inilah saatnya impianmu yang lama terkubur dipikiranmu menjadi sebuah kenyataan. Akan selalu ada yang berdoa untukmu agar kamu bisa berhasil dalam setiap meraih semua impianmu. Jangan pernah menyerah sekali pun seolah-olah Tuhan belum campur tangan dalam persoalan yang sedang kita hadapi.
Dari yang mencintaimu. (*_*)
Agnes
######

Aku terbangun di tengah malam yang sunyi. Semua kenanganmu hadir dalam tidurku dan aku tersentak seketika saat mencoba untuk meraih kembali semua yang talah berlalu. Aku terhenyak dengan kepergianmu. Aku hanya bisa menitikkan butiran-butiran air mata di hening dan dinginnya malam.

Angin malam berhembus dengan lebut seolah berbisik, “Kuatkan jiwa hadapi gejolak hidup. Semuanya sudah tiada lagi dan hanya tinggal sebuah sejarah. Mimpimu hanyalah kenangan lalu coba datang dalam memorimu.”

Kamu hadir dalam hidupku seperti Oase yang membangkitkan hasrat untuk berbagi angan. Diantara keringat yang jatuh dan jantung yang berdetak liar serta dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku katakan, “aku akan selalu rindu padamu.”

Kulayangkan pandanganku pada potretmu yang masih kusimpan.  Aku sendiri dan tanganku bergetar saat mengusap air mataku yang jatuh berkaitan dengan luka hatiku yang merindumu dan selalu mencintaimu. Tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutku. Yang ada hanya wajahmu yang menari-nari diujung bola mataku. Senyuman manismu  masih bertapa di dalam relung pikiranku. Aku berdiri menatap sang purnama meski malam telah begitu sunyi. Hanya desiran angin malam yang jadi teman dalam kesunyian dan kerinduanku ini .

#####
Aku duduk sendiri di di salah satu bongkahan batu besar di pantai Cilincing. Dulu aku sering duduk di sini. Tapi tidak sendiri seperti saat ini. Ini tempat kegemaranku dan Agnes untuk menikmati sunset yang indah. Mendengarkan suara ombak kecil yang terus menerus berkejaran tanpa lelah. Merasakan sentuhan angin sepoi-sepoi. 

“Tumben sendiri, De?” Entah sudah beribu kali orang bertanya kepadaku dengan pertanyaan yang sama. Aku tahu mereka mencari sosok Agnes. Aku selalu menjawab sambil tersenyum pahit, “Agnesnya lagi pergi… Mencari madu di taman bunga!”

Aku sering datang dan duduk di bongkahan batu ini hanya untuk menikmati kenangan yang pernah ada. Aku tidak pernah bosan apa lagi mengeluh karena aku yakin, dia akan datang menemuiku. Semuanya hanya masalah waktu. Berapa lama pun aku harus menunggu aku akan tetap menunggu. Meski sampai laut yang ada di hadapanku sampai mengering. Aku tidak mempermasalahkan waktu yang aku buang untuk menunggu dia karena aku terlalu sayang dan mencintainya.

Jangan pernah tanyakan kepadaku sampai kapan aku harus disini menunggunya karena aku tidak memiliki jawabannya. Hanya Tuhan yang tau jawabannya. Simpan pertanyaan itu. Aku menikmati setiap detik yang ada. 

Aku ingin menjenguknya. Ingin sekali. Namun aku harus mengurungkan niatku karena orang tuanya tidak mengizinkan aku menemuinya yang terbaring lemah di rumah sakit karena kanker otak.

Tetesan air mata yang membasahi pipi putihku mengalir. Air mata ini adalah darah yang keluar dari hatiku. Hati seorang pria yang kehilangan kekasihnya. Tangisan kepedihan yang tak terobati. Tangisan sendu tanpa penglipur lara.

Tanpa terasa, malam menyapaku setelah mentari beradu di singgasananya. Langit tak berteman. Tak ada bintang dan rembulan. Yang ada hanya pekatnya malam. Sepekat dan sekelam kisah dan cintaku. Aku disini hanya ditemani sepi. Aku merindukan suaranya. Aku merindukan cubitan mesranya. Aku ingin melihat senyuman manisnya. Aku ingin dia disisiku.

Aku melemparkan pandangan ke pantai yang ada di belakangku. Memoriku merekam dengan kuat kisah yang ada disana.
#####

“Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat! Kamu pasti suka tempatnya!” kataku kepada Agnes dengan bersemangat!
“Kemana?”
“Ada deh! Kamu ikut aku aja!”
“Ngga mau! Kasih tau dulu nama tempatnya.”
“Kalo aku kasih tau sekarang ntar kamu ngga suprise!”
“Jadi mau ngasih kejutan nih ceritanya?”

Aku hanya menjawab pertanyaan Agnes dengan tersenyum. Aku memegang tangannya dan berjalan bersamanya meninggalkan rumahku. Ketika hampir tiba di tempat tujuan. AKu menutup matanya dengan sapu tangan yang sudah aku persiapkan.

“Ngapain sih pake tutup mata segala?”
“He…he…he…Namanya juga kejutan!”

Dengan hati-hati aku melepaskan penutup mata yang masih menutup kedua bola matanya yang indah. Aku tersenyum manis melihat ekspresi Agnes begitu melihat apa yang telah aku persiapkan dengan rapi.

“Wouw….” ucap Agnes dengan ekspresi takjub. Terposona. Detik berikutnya dia menyeka air mata keharuan dan kebahagiaan yang tiba-tiba menetes. Bibir lembutnya mengikuti bait-bait lagu yang dinyanyikan pengamen yang telah aku siapkan.

Jika Ada Cara Baru Tuk Mengungkap Rasa Rindu
Aku Ingin Tahu…Aku Ingin Tahu
Jika Ada Cara Yang Belum Di Cipta Untuk Cinta
Aku Ingin Bisa…Aku Ingin Bisa

Saat Semua Kata Kehilangan Makna
Saat Segala Upaya Terasa Hampa
Sekaranglah Itu Beginilah Aku
Berdiam Tanpa Daya Hanya Karena Kehadiranmu
Sementara Jiwamu Ingin Berseru
Setengah Mati Ingin Ku Bilang

Jika Ada Nada Baru Tuk Nyanyikan Aku Cinta
Aku Kan Bernyanyi…Aku Kan Bernyanyi
Jika Ada Kata Yang Belum Di Cipta Oleh Pujangga
Aku Kan Bersuara…Aku Kan Bersuara

Saat Semua Resah Meluluh Sayapnya
Saat Yang Kumiliki Hanya Nafas Ini
Sekarang Lah Itu Beginilah Aku
Hanya Detak Jantungku Yang Mampu Jujur Kepadamu
Sementara Lidahku Beku Dan Keluh
Setengah Mati Ku Ingin Menghilang




( Marcell ft. Karen Pooroe - Bukan Lagu Cinta )

“Hanya ini yang bisa aku berikan di ulang tahun kamu,” ucapku setelah pengamen tersebut pergi setelah selesai menyelesaikan tugas mereka.

Aku dan Agnes menyapu pandangan kami ke hamparan pasir putih yang mendadak menjadi indah. Di antara hamparan itu tersusun rapi kulit kerang yang berbentuk hati besar dan di dalamnya ada tulisan HAPPY BIRTHDAY Agnes!!!

“Aku harap kamu suka!”
“Mhmm…”
Aku menatap Agnes menunggu komentarnya.
“Aku suka banget! Apa lagi bunga mawar kuningnya!”
“Kuning, warna kesukaan kamu.”
“Seberapa besar kamu menyayangi aku?”
Aku kaget dengan pertanyaan yang baru aku dengar. Aku diam sebentar.
“Seluas lautan yang tak bertepi!”
“Gombal! Kalo kamu memandang jauh sepertinya laut itu tak bertepi tapi sebenarnya kita sedang berdiri ditepian itu. Bukannya kita sedang ada di tepi pantai? He…he…he…”
“Ha..ha..ha.. Benar juga ya!”

Kami terdiam dan larut dengan pikiran kami masing-masing.
“Apa aku boleh jujur?” kataku dengan suara pelan.

Agnes menatapku dengan tatapan kebingungan yang kemudian berganti dengan senyuman manis lalu disusul suara tawa yang lembut.

“Aku suka orang yang jujur!”
“Kalau begitu, aku akan jujur dengan perasaanku. Aku mencintaimu! Aku tidak bisa membohongi perasaanku kalau aku terlanjur jatuh cinta padamu!”
“Aku rasa kamu sudah tau jawabannya, De! Aku tidak punya alasan untuk tidak menyayangimu. Tapi….”
“Tapi apa?”
“Kamu sendiri tau keadaan aku? Aku jauh lebih memilih kita menjadi seperti kakak dan adik. Aku rasa itu yang terbaik untuk kita berdua.”
“Aku tidak pernah peduli dengan keadaan kamu karena aku tau resiko mencintaimu adalah menerima semua kekuranganmu.”
“Tapi De! Ini berbeda! Aku ngga mau kamu akan terluka! Aku ngga mau kamu kembali merasakan sakitnya kehilangan orang yang kamu cintai untuk kedua kalinya!”
“Percayalah, aku sudah pernah merasakan ditinggalkan untuk selama-lamanya. Aku akan jadi lebih siap jika…” suaraku mendadak hilang. Aku sendiri tidak sanggup melanjutkan kalimatku.
“De… Semua orang tau kalo aku ngga akan hidup lebih lama lagi!”
“Tapi aku percaya mukjizat itu terjadi. Kamu akan sembuh!”
“Aku juga percaya tapi kita harus realistis! Kalo ternyata Tuhan ngga sembuhkan aku?”
Aku terdiam.
“Aku bisa menggangapmu seperti adikku sendiri tapi aku tidak bisa mengubah perasaan aku padamu. Aku terlanjur mencintaimu.”
“Tapi ini untuk kebaikan kamu, De! Ketika aku dekat denganmu aku menemukan sosok Mario dalam dirimu. Alasan aku dekat denganmu karena aku mendapatkan apa yang pernah aku dapatkan dari Mario, almarhum kokoku! Aku rasa ini yang terbaik buat kita.”

Agnes melangkah pergi dan meninggalkanku. Aku hanya berdiri terpaku memandangnya pergi. Aku tidak memiliki kekuatan untuk melangkah dang mengejarnya. 

#####

Aku berdiri terpaku melihat wajah pucat Agnes yang terbaring lemah. Hati kedua orang tuanya luluh juga ketika Agnes memohon untuk bertemu denganku meski hanya sebentar saja.

Ya Tuhan! Sunggu aku tak sanggup melihat gadis pujaanku menahan rasa sakitnya.

Agnes menatapku dan tersenyum tipis. Aku menghampirinya dan menggengam tangannya.

“Aku masih percaya dengan mujizat! Kamu harus kuat.”
“Cepat atau lambat semua manusia pasti akan meninggal dunia. Hanya masalah waktu,” ucapnya pelan.

Aku terdiam.

“Aku ingin kamu membaca isi surat ini besok,” kata Agnes sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna kuning. 

Aku menerimanya lalu menyimpannya di saku celanaku.

“Aku mencintaimu,” bisikku pelan.

Air matanya jatuh membasahi pipinya.

“Bisakah kamu menyanyikan sebuah lagu untukku?”

Aku tersenyum dan mengiyakan.

“Aku ingin dengar lagu, Dia mengerti.”

Terkadang kita merasa
Tak ada jalan terbuka
Tak ada lagi waktu
Terlambat sudah

Tuhan tak pernah berdusta
Dia s’lalu pegang janji-Nya
Bagi orang percaya
Mujizat nyata


Reff:
Dia mengerti, dia peduli
Persoalan yang sedang terjadi
Dia mengerti, dia peduli
Persoalan yang kita alami



Namun satu yang dia minta
Agar kita percaya
Sampai mujizat menjadi nyata
Tuhan mengerti


(Dia mnegerti- Delon)
“Agnes!!!!!” Aku berteriak keras saat menyadari Agnes tak lagi bernafas dan memejamkan matanya setelah aku menyelesaikan lagu permintaannya.

#####

Aku berdiri terpaku melihat wajah pucat Agnes yang terbaring lemah. Hati kedua orang tuanya luluh juga ketika Agnes memohon untuk bertemu denganku meski hanya sebentar saja.
Ya Tuhan! Sunggu aku tak sanggup melihat gadis pujaanku menahan rasa sakitnya.
Agnes menatapku dan tersenyum tipis. Aku menghampirinya dan menggengam tangannya.
“Aku masih percaya dengan mujizat! Kamu harus kuat.”
“Cepat atau lambat semua manusia pasti akan meninggal dunia. Hanya masalah waktu,” ucapnya pelan.
Aku terdiam.
“Aku ingin kamu membaca isi surat ini besok,” kata Agnes sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna kuning. 
Aku menerimanya lalu menyimpannya di saku celanaku.
“Aku mencintaimu,” bisikku pelan.
Air matanya jatuh membasahi pipinya.
“Bisakah kamu menyanyikan sebuah lagu untukku?”

Aku tersenyum dan mengiyakan.
“Aku ingin dengar lagu, Dia mengerti.”
Terkadang kita merasa
Tak ada jalan terbuka
Tak ada lagi waktu
Terlambat sudah
Tuhan tak pernah berdusta
Dia s’lalu pegang janji-Nya
Bagi orang percaya
Mujizat nyata


Reff:
Dia mengerti, dia peduli
Persoalan yang sedang terjadi
Dia mengerti, dia peduli
Persoalan yang kita alami



Namun satu yang dia minta
Agar kita percaya
Sampai mujizat menjadi nyata
Tuhan mengerti


(Dia mnegerti- Delon)
 
“Agnes!!!!!” Aku berteriak keras saat menyadari Agnes tak lagi bernafas dan memejamkan matanya setelah aku menyelesaikan lagu permintaannya.

#####
 
 http://www.kompasiana.com/dewaklasik
 
 

Pacarku Jelek !

“Kenapa loe?” tanya Agnes setelah berkali-kali aku ping.
“Kemana aja sih loe?”
“Bb gua lowbat tadi.”
“Ow….”
“Loe lagi ada masalah ya?”
“Entahlah…”
“Aneh!”
Aku menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal.
“Gua malu pacaran ama Tara.”
“Hah? Yang benar aja loe? Kenapa emangnya?”
“Dewantara, ngga kayak cowok teman-teman gua yang lain. Kalau mau dibandingin kayak langit dan bumi deh. Semuanya pada cerita tentang kehebatan dan kelebihan pacar mereka sedangkan gua? Gua ngga tau harus ngomong apa. “
“Dia pasti punya kelebihan.”
“Kelebihan? Yang ada kekurangan.”
“Emang apa aja kekurangannya?”
“Mau tau kekurangannya dia?”
“Emang apa?”
“Masa hari gini dia ngga punya BB. Blackberry gitu loh! Yang ada hanya Hp butut nan tua. Yang bisa untuk sms dan telpon doang. Sedangkan pacar teman-teman gua, jangankan BB, iphone pun punya. Ngeselin ngga?????”
“Ow….”
“Trus dia ngga pernah jemput gua. Jangankan pake mobil. Sepeda aja ngga punya, apa lagi motor! Ke mana-mana naik angkot. Duh, padahal Jakarta kan panas dan berdebu di mana-mana. Coba lihat tuh, cowoknya si Ririn. Mau naik mobil apa aja bisa. Tinggal pilih yang ada di garasi rumahnya. Sopir ngga cuma satu tapi lebih. Ke mana aja pasti dianterin. Sementara, Dia! Jauh banget…… “
“Trus?”
“Apa lagi ya? Oh ya…. Bajunya itu loh! Warnanya udah kusam. OMG! Emang ngga ada yang lebih keren lagi? Sementara pacar teman-teman aku tuh pake baju yang bermerek terkenal. Sepatu si dia aja belinya di pasar dan itu-itu aja. Huhuhuhu….”
“Trus apa lagi?”
“Belum lagi nih masalah makan. Mana mau dia makan di kafe atau restoran yang berkelas gitu. Mana ada duit dia buat traktir gua. Yang ada minum es teh dan makan bubur di pinggir jalan. Kan kalo teman-teman gua liat bisa gengsi gua. Gengsi segengsi gengsinya. Gokil, malu-maluin banget sebanget bangetnya! “
“Itu doang?”
“Masih ada lagi nih. Dia ngga pernah ngasih gua kado atau sesuatu yang “mahal” gitu. Coba, si Keisha yang baru jadian satu bulan ama si Tio, pake liontin emas putih. Sedangkan gua? Mimpi kali yeeee….”
“Apa lagi?”
“Trus wajahnya itu jauh dari yang namnya ganteng!!!!! Makanya aku suka bilang kalo dia itu “JELEK!”
“Bisa aja loe. Dia ganteng kali.”
“Gua benar-benar malu banget punya pacar kayak De! Mau putusin aja rasanya! “
“Yang benar aja loe!”
“Tadi pas pulang kuliah, gua lihat dia nunggu gua di gerbang sekolah. Tapi gua menghindar. Gua malas ketemu ama dia. Hari ini dia tau kalau gua akan ke Rumah sakit buat terapi. Karena dia ngga berhasil menemui gua di sekolah dia nyusul di rumah sakit. Tapi gua lagi-lagi menghindar. Setiap kali dia sms ngga gua gubris. Kalo dia telpon gua ngga angkat.”
“Tega banget loe!”
“Biarin!”
“Terserah loe deh kalo gitu.”
######
“Gua mau putus ama Tara!”
“HAH?” kata teman-teman gua kompak begitu mendengar ucapan gua.
“Monica… Akhirnya loe nyadar juga! tara itu ngga pantas buat loe. Kayak majikan ama pembantu,” ujar Talitha berapi-api.
“Ngga ada untungnya loe tetep ama dia, ntar elo juga bisa dapet yang lebih bagus dan berkelas gitu loh! Cewek kayak loe, banyak cowok yang ngantri buat dapetin loe,” celoteh Sandra sambil menikmati pizza.
Setelah mendengar sana-sini tentang pendapat teman-teman gua mengenai Dewantara akhirnya gua pun bersuara.
“Ah!!! Bete banget gua ama Tara, udah ngga ada modal mending kalo gaul, dan mukanya setelah gue pikir-pikir biasa banget, ya ampun kok gua dulu mau yah jadian sama dia? Dipelet kali yah gua!!”
Tiba-tiba dunia mendadak sepi. Semuanya pada ngelihat ke belakang gua. GUBRAK!!!! Dewantara ada disana. Dia mendengar semua yang gua ngomongin. Mulut gua mendadak terkunci rapat. Gua hanya bisa diam dan melirik Tara sebentar. Gua ngga habis pikir, kenapa dia bisa tau gua ada di sini? Tadi gua sempat lihat dia bawa mawar kuning. Mawar kesukaan gua. Dia hanya diam lalu beranjak pergi sambil tertunduk.
Gua benar-benar ngga nyangka kalo ini terjadi! Rasanya seperti dalam sinetron kampungan aja!!!!
######
Kembali gua bercoleteh dengan Agnes via bbm.
“Setelah beberapa hari semenjak kejadian itu. Tara seperti menghilang! Ngga ada sms apa lagi telpon dari dia. Di facebook pun dia ngga nulis apa-apa. Ah!!!! Kok gua tiba-toba jadi kangen ya….”
“Itu artinya loe cinta ama dia.”
“Gua mulai ngerasa kehilangan sesuatu, kadang gua suka bengong dan bingung sendiri. Cuma gua berusaha ilangin perasaan itu. Gua ngga tau kenapa jadi males kemana-mana, pengennya sendiri aja, males ngapa-ngapain. Semua orang jadi bingung kenapa gua berubah jadi kayak gini. Gua sendiri juga ngga tau kenapa?”
“Duh, kalo udah urusan cinta memang bikin susah!”
Gua tiba-tiba kangen ama lagu yang pernah De nyanyikan dengan suaranya yang fals….
Kali ini kusadari
Aku telah jatuh cinta
Dari hatiku terdalam
Sungguh aku cinta padamu
Cintaku bukanlah cinta biasa
Jika kamu yang memiliki
Dan kamu yang temaniku seumur hidupku
Terimalah pengakuanku
Percayalah kepadaku
Semua ini kulakukan
Karena kamu memang untukku
Cinta ku bukan cinta biasa
Jika kamu yang menemani
Dan kamu yang temaniku seumur hidupku
Terimalah pengakuanku
Ngga tau, gua mendadak nangis. Gua baru menyadari kalo dia itu baik banget… Baik sebaik baiknya. Mungkin dia adalah cowok terbaik yang pernah dekat dengan gua.
Meski dia ngga punya BB tapi dia berusaha untuk memangkas uang makannya hanya untuk beli pulsa agar bisa smsan ama gua atau telpon . Apa lagi kalo gua tengah malam mendadak ngga bisa tidur, dia setia menemani gua dengan smsannya meski gua tau seharian dia capek sama pekerjaannya. Pernah tuh berkali-kali dia ketiduran pas lagi smsan sama gua.
Meski dia ngga punya kendaraan sendiri tapi dia selalu berusaha ontime kalo janjian sama gua. Ngga hujan ngga panas. Meski gua tau kadang dia harus ganti angkut berkali-kali dari kosnya ke tempat kami janjian.
Dari dia belajar kalo batik itu banyak coraknya. Dari baju batiknya aku belajar untuk mencintai Indonesia. Dia ngga pernah malu memakai batik meski sering diejek. Tapi dia tetap bangga dengan batik dan Indonesia.
Gua suka bertanya kenapa dia suka makan di kaki lima atau warteg? Dia hanya bilang, “Ngapain makan di restoran mahal? Hanya bikin si empunya restoran yang udah kaya jadi kaya. Sedangkan mereka ini, mereka jualan apa yang mereka bisa jual agar bisa menghidupi keluarga mereka.”
“Maaf aku ngga bisa beliin kamu barang yang bagus dan mahal. Karena anak-anak asuhanku banyak yang butuh biaya sekolah.” Ucapnya pas ULTAHku beberapa waktu yang lalu.
Dia juga pernah nulis di status updatenya di facebook gini ” Tuhan ngga memandang rupa manusia. Cakep atau jelek sama aja di mata-Nya. Tuhan hanya tertarik dengan karakter dan hati kita. Bukan wajah kita!”
Dari Dewantara gua belajar banget tentang hidup. Gua berharap kalau gua tidak terlambat untuk minta maaf. Gua baru tau di balik kekurangannya dia punya seribu kebaikan yang belum tentu dimiliki cowok lain. Sebenarnya gua beruntung punya Dewantara. Dia selalu kuatir dengan keadaan gua. Selalu ingetin gua untuk makan dan minum obat. Yang selalu ingin tau gua tetap sehat atau lagi sakit. Yang selalu berdoa buat gua. Yang selalu bikinin gua puisi untuk note di facebooknya meski dia harus ke warnet.
Apakah dia, mau maafin gua? Pelajaran berharga dari kejadian ini adalah hargailah apa yang kamu miliki sekarang, karena tanpa kamu sadari, kamu begitu beruntung telah memilikinya.
Gua menghubungi nomor Tara…
“Halo!”
“Monica?!”
“Maaf ya!”
“Maaf? Maaf untuk apa?”
“Untuk kejadian tempo hari.”
“OMG! Aku udah lupa kali! Ngapain dipikirin.”
“Kamu ngga sakit hati atau marahkan?”
“Gubrak! Ngapain marah apa lagi sakit hati? Nikmati aja!”
“Hah? Kamu bilang nikmati aja?”
“Ya iyalah. Hidup itu udah susah jadi ngapain dibikin susah lagi?”
“Trus, kenapa sejak kejadian itu kamu menghindar?”
Dewantara hanya diam…
“Tara…” teriakku.
“Gua habis kecelakaan…..”
Gua tidak memperhatikan lagi suaranya. Gua hanya menyesali betapa jahatnya gua ama Tara.
Gua berjanji dalam hati, apa pun yang terjadi dan apa pun kata orang tentang dia, gua hanya mau bilang pada diri gua sendiri “Nikmati aja!”. Karena gua jauh lebih tau kualitas seorang Dewantara dibandingkan yang lain.
……………….
TAMAT

http://www.kompasiana.com/dewaklasik

Kisah Sedih Di Malam Natal

“Bukan seberapa besar yang bisa kita beri tapi seberapa besar hati kita pada saat memberi.”

Dewa Klasik Alexander

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
1 Korintus 10:3
12931812582115727407
Aku menatap Angel yang tidur lelap.  Adikku satu-satunya. Hanya tinggal aku dan dia. Ayah pergi meninggalkan kami setelah ibu meninggal dunia dua tahun yang lalu. Kata teman-teman ayahku, dia menikah lagi dan tidak ingin membawa kami karena istri barunya tidak menginginkan kami. Selama dua tahun itu juga ayah tidak pernah menjengukku.
Tidak ada yang bisa mereka wariskan selain kasih sayang dan tentang Yesus kristus dalam hidup kami. Beserta sebuah gubuk di kolong jembatan yang telah usang di makan waktu.
Seingatku sejak lahir aku sudah tinggal di kolong jembatan.
“Kak, aku mau kado natal.” Terngiang permintaan Angel sore tadi.
Aku mencoba memahami keinginannya sebagai anak berusia enam tahun.
“Kakak tidak bisa janji. Tapi kakak akan usahakan.”
Hanya itu yang bisa aku katakan.
*****
“Dua puluh ribu? Bagaimana?” tanya Bang Ical.
“Tambah lima ribu lagi bang!”
Bang Ical berpikir sejenak.
“Ok! Dua puluh lima ribu.”
Aku tersenyum lalu menyerahkan celana jeansku. Aku terpaksa menjual satu-satunya jeans yang aku punya. Demi untuk membeli sebuah kado untuk Angel.
Aku melangkahkan kakiku ke gubukku untuk menemui Angel.
Sebuah senyuman manis menyambut kedatanganku.
“Angel sudah mandi?”
“Sudah dong kak! Kakak tuh yang bau! He…he…he…”
Aku mencium aroma badanku yang asam.
“Kakak mandi dulu ya. Nanti kita ke mal.”
“Serius kak?” tanya Angel dengan mata berbinar-binar.
“Iya sayang! Emang kapan kakak bohong sama kamu?”
“Ya udah… Mandi sana kak.”
“Cium dulu dong!”
“Ngga mau!”
“Kalo gitu kakak yang cium kamu.”
Dengan cepat aku mendaratkan sebuah ciuman ke pipi Angel.
“Bau….” teriak Angel lalu tersenyum.
*****
Sudah satu jam aku dan Angel mengelilingi Citra Land Mal. Tapi dia belum memutuskan untuk memilih kado. Aku sengaja memberikan dia kebebsan untuk memilih kado asal harganya tidak lebih dari dua puluh lima ribu rupiah.
“Angel mau kado apa?”
“Tempat jual permen di mana kak?”
Aku sedikit bingung dengan pertanyaannya.
“Kita harus ke lantai bawah.”
“Ya udah kita ke sana.”
*****
“Satu orang dapat lima ya,” ucap Angel membagikan permen ke anak-anak jalanan yang sering mangkal di sekitar lampu merah dekat Citra Land Mal.
“Kita harus bisa berbagi, meski kita susah!”  Jawab Angel ketika aku menanyakan niatnya membagi-bagikan permen ke anak-anak jalanan.
Dia benar-benar malaikat kecilku. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang kini bermain bersama anak-anak jalanan lainnya.
“Angel, kakak mau pipis dulu ya.”
“Ya udah!”
Aku melangkahkan kakiku untuk mencari tempat memenuhi panggilan alam.
“Tolong!”
“Angel!”
Terdengar teriakan dari arah belakangku. Aku membalikkan tubuhku dan melihat kerumunan orang banyak. Tanpa berpikir panjang aku berlari ke kerumunan tersebut.
Dunia seakan runtuh. Angel terbaring di aspal jalanan dengan bersimbah darah.
“Tadi ada mobil ugal-ugalan yang nabrak Angel,” ucap seseorang ibu.
“Angel! Kakak sayang kamu! kamu jangan tinggalin kakak ya.”
Tidak ada jawaban. Hanya nafas lembut yang terdengar.
“Angel!” teriakku dengan sekuat tenaga. Aku tidak lagi mempedulikan orang-orang di sekitarku.
Aku mengangkat tubuhnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
*****
Masih terngiang dikepalaku percakapan kami dua hari yang lau.
“Kak, kapan aku bisa pegang pensil?”
“Untuk apa?”
“Aku udah ngga sabar lagi untuk belajar menulis.”
Tubuh mungilnya terbaring dengan lemah. Tangan kanannya yang buntung dibalut perban. Betapa mirisnya hatiku melihat perban itu. Aku melihat tubuhnya yang pucat dan menahan rasa sakit diantara selang infus yang masih terpasang ditubuhnya.
Aku mengumpulkan semua kekuatanku hanya untuk menyapanya.
“Hallo, Angel?”
Aku duduk di sisinya. Aku membelai rambutnya.
“Kak, tangan Angel sakit sekali. Tangan Angel kenapa dipotong? Kan Angel mau nulis?”
Aku mencoba untuk menahan air mataku untuk tidak jatuh membasahi pipiku. Aku tidak boleh menangis didepan Angel.
“Angel pasti sembuh!” kataku mencoba menghiburnya.
“Kalo Angel sembuh itu artinya tangan Angel tumbuh lagi ya?”
Hanya Tuhan yang tau betapa perihnya hati ini melihat keadaan Angel.
“Iya, Angel lupa. Angelkan bisa menulis pakai tangan kiri.” Ucapnya dengan senyuman.
Aku tidak bisa menahan air mataku untuk tidak jatuh.  Aku ngga bisa membayangkan kalo aku mengalami apa yang dialaminya. Aku mungkin bisa gila! Tapi berbeda dengan Angel. Dia tetap optimis meski dia sendiri tidak tau arti optimis itu apa.
“Nanti kakak akan ajarin kamu menulis ya!”
“Kapan?” tanyanya.
“Kalau kamu sembuh nanti.”
“Kakak, udah belikan aku pensil?”
“Udah. Warnanya warna pink loh!”
“Kakak kenapa menangis? Aku aja yang kecil ngga nangis.”
Aku cepat-cepat menghapus air mataku.
“Aku mau nyanyi untuk kakak, bolehkan?”
Aku hanya menganggukan kepalaku.

Awan Awan Menghitam
Langit runtuhkan dunia
Saat aku tahu ternyata akhir ku tiba

Mengapa semua menangis
Padahal ku selalu tersenyum
Usap air matamu
Aku tak ingin ada kesedihan

Burung sampaikan nada pilu
Angin terbangkan rasa sedih
Jemput bahagia diharinya
Berikan dia hidup

Tuhan terserah mau-Mu
Aku ikut mau-Mu Tuhan
Ku catat semua ceritaku
Dalam harianku
************
TAMAT

http://www.kompasiana.com/dewaklasik

Doa Samuel - continue of Kado Untuk Samuel

Tuhan….
Aku lapar! Sangat Lapar!
Tapi aku tidak ingin meminta makanan.
Aku hanya minta berkati mereka yang kelaparan sepertiku.
Tuhan…
Aku sakit! Sangat sakit!
Tapi aku tidak meminta kesembuhan.
Aku hanya minta sembuhkan mereka yang sakit sepertiku.
Tuhan…
Aku sebatang kara!
Tapi aku tidak meminta boneka.
Aku hanya minta hiburkan mereka yang kesepian.
Tuhan…
Bajuku penuh tambalan.
Tapi aku tidak meminta baju baru.
Aku hanya minta berkati mereka yang berkekurangan.
Tuhan…
Aku tidak ingin mujizat-Mu.
Meski aku tahu, Engkau sanggup melakukan-Nya.
Aku hanya minta, tunjukkan mujizatmu kepada mereka yang tidak mempercayai-Mu.
Tuhan…
Kalau besok aku meninggal.
Aku tidak ingin ada yang menangis.
Tapi aku ingin mereka tersenyum. Tersenyum karena aku bertahan hingga akhirnya.
Tuhan…
Malam ini aku tidak meminta apa-apa untuk diriku.
Jadilah kehendakmu di bumi seperti di Surga.
Karena aku tahu, bersama-Mu semuanya akan Engkau berikan.
AMIN
http://www.kompasiana.com/dewaklasik

Kado Untuk Samuel

“Mengasihi artinya berbagi kebahagiaan dan berkorban demi kebahagiaan orang yang kita kasihi”
Dewa Klasik Alexander


“Aku menemukan sisi lain dari keindahan dunia ini saat mengenalmu dan ketika aku kehilangan dirimu, engkau menjadi inspirasi bagiku.”
Dewa Klasik Alexander
12926784181062922423 

12915650891304406632
Aku meneguk sisa es teh tawar yang masih tersisa di gelasku. Ketika aku masih menikmatinya ekor mataku menangkap sosok anak laki-laki yang memperhatikanku. Matanya menatapku. Sebuah tatapan yang menusuk ke dalam hatiku. Tatapan yang penuh iba. Aku meletakkan gelas yang hanya menyisakan es batu yang masih membeku.
“Bu, anak kecil yang duduk di pinggir jalan itu siapa ya?” tanyaku penasaran kepada pemilik warung sambil memandang anak laki-laki tersebut.
“Ow… Duh, kasihan tuh anak, bang!”
“Kasihan kenapa, bu?”
“Sudah seminggu bapanya meninggal gara-gara sakit. Ibunya sih meninggal pas melahirkan dia. Dia ngga punya keluarga lagi. Sekarang sih dia tidur di mana saja karena di usir dari kontrakan.”
“Begitu ya, bu!”
Selesai membayar es teh tawar yang aku pesan. Aku menghampiri anak laki-laki yang hanya mengenakan pakaian kumal tanpa alas kaki. Entah sudah berapa lama dia tidak mengganti pakaiannya.
Semakin aku mendekatinya semakin jelas kelihatan kalau tubuhnya tidak terurus. Dia terus menatapku sampai aku duduk di sampingnya.
“Nama kamu siapa dek?” tanyaku dengan nada bersahabat sambil mengukir sebuah senyuman.
“Aku lapar, kak!” ucapnya sambil memegang perutnya.
Aku mencoba mengingat uang yang masih tersisa di saku dan dompetku. Hanya ada selembar sepuluh ribuan dan dua koin lima ratus.
“Nanti kakak belikan kamu makanan. Tapi nama kamu siapa?” Sekali lagi aku menanyakan namanya.
“Benar kak? Serius? Kakak ngga bohongkan?”
“Iya. Ngapain bohong? Tapi nama kamu siapa?”
Aku melihat senyuman manisnya yang memancarkan barisan giginya yang tersusun rapi tapi berwarna kuning karena tidak pernah disikat.
“Namaku Samuel Lie. Dipanggilnya Samuel. Kalau kakak?”
“Dewantara, panggil saja kak Tara!”
Dia mengulurkan tangannya lalu kusambut. Sebuah jabatan salam perkenalan yang hangat. Terasa kalau tangannya penuh dengan debu ketika tanganku bersentuhan dengan tangan munggilnya. Kukunya yang panjang menyembunyikan daki berwarna hitam di setiap kuku jarinya.
“Yuk, kita makan.”
“Di mana kak?”
“Tuh ada warteg!” ucapku sambil menunjuk sebuah warteg.
Dengan langkah semangat Samuel memegang tanganku dan menuntunku ke warteg tersebut. Wajah murungnya berubah menjadi ceria.
Aku hanya memandangnya dengan mata yang hampir copot. Lahap sekali anak ini makan. Kurang dari lima menit, makanan yang aku pesan sudah tidak tersisa lagi. Sampai menjilat jarinya segala.
“Terima kasih ya, kak!” ucapnya dengan malu-malu.
“Sama-sama,” balasku terharu meski aku tahu jatah makan malamku sudah tidak ada lagi.
*****
Aku manatap Samuel yang tidur terlelap yang hanya beralaskan koran dan tumpukan baju di kosku yang hanya berukuran 2×1,5 meter. Masih terngiang pembicaraan antara aku dengan Samuel sebelum dia terlelap.
“Aku panggil kakak dengan sebutan Ko Dewa ya?”
Aku menatapnya dengan keheranan di antara terang yang dipancarkan lilin kecil. Anehkan? Kos yang aku tinggali hanya seratus ribu sebulan. Tanpa listrik dan tanpa kamar mandi. Jadi kalau mau mandi harus ke WC umum. Itu pun harus bayar. Suara kereta api yang lewat persis di depan kosku sudah menjadi musik tersendiri bagiku. Kata orang ada harga, ada mutu. Seperti itulah gambaran kos di pinggiran rel kereta api.
“Dulu aku punya koko.”
“Trus koko kamu di mana sekarang?”
Hening. Sunyi. Bisu.
“Koko… Koko meninggal karena sakit sama seperti papa. Namanya Ko Daniel.”
Kembali kesunyian mencekam.
“Ngga apa-apakan kalau aku manggil kakak dengan panggilan Ko Dewa?”
Aku berusaha untuk tersenyum, “panggil saja Ko Tara, ya?”
“Oklah kalau begitu.”
Aku tertawa dengan tingkah lakunya yang masih polos.
Karena lelah Samuel langsung tidur terlelap. Sementara aku berusaha menutup mataku diantara suara perutku yang berbunyi karena kelaparan.
*****
12915651631596054007
“Koko pengen punya toko sendiri,” celotehku ketika mengajaknya ke tempatku bekerja. “Ngga perlu besar, yang penting milik sendiri.”
“Kenapa ngga jadi koki saja?”
“Koki?”
“Iya. Bisa makan sepuasnya. Kita makan ya ko?”
“Kamu lapar?”
“Lapar setengah mati.”
“Tapi uang koko tinggal seribu rupiah. Cuma bisa beli gorengan.”
Samuel hanya menatapku.
“Kamu disini ya, koko beliin kamu gorengan dulu.”
“Iya ko.”
Aku berlari untuk membeli dua potong pisang goreng. Begitu kembali, mata Samuel berbinar-binar ketika menerima dua potong pisang goreng.
“Ini untuk aku dan ini untuk koko,” ucapnya sambil menyerahkan sepotong pisang goreng.
“Untuk kamu saja ya!”
“Ngga mau! Koko kan belum makan apa-apa dari semalam?”
Dengan berat hati aku memakannya juga.
Setelah itu aku langsung melakukan tugasku ketika tiba di toko. Membuka toko, lalu membersihkannya, melayani pembeli dan kemudian menutupnya. Gajinya sih cukup untuk bayar kos, makan, kebutuhan sehari-hari dan biaya transportasi. Tapi beruntung Ko Willy, si empunya toko berbaik hati mengizinkan aku memakai komputernya untuk jualan online. Aku menjual tas yang ada di toko Ko Willy di blogku yang kuberi kamarsolusi.com. Keuntungannya memang sedikit. Tapi aku percaya, setia dalam hal yang kecil maka Tuhan akan mempercayakan hal yang lebih besar lagi.
“Nanti kalau ada yang beli tas sama koko, nanti koko traktir kamu di KFC.”
“Wow! Samuel doain semoga laku. AMIN”
Aku hanya tersenyum. Apa lagi melihat tubuhnya sudah bersih. Meski baju yang dikenakannya kebesaran.
Aku belum bisa membelikan Samuel baju sehinga mau ngga mau dia harus memakai pakaianku.
*****
“Kamu sikat gigi pakai garam ya?”
Samuel menatapku dengan kebingungan.
“Odolnya habis. Koko belum bisa beli.”
“Ow.”
“Begini caranya…” ucapku lalu mengambil garam dengan telunjuk tanganku dan menggosokkannya ke gigiku.
“Asin ko!”
Aku tersenyum meski hatiku perih.
“Yah iyalah masa manis.”
*****
12915651891207257977
“Badanmu panas,” keluhku bingung ketika tanpa sengaja menyentuh tubuhnya. “Kamu sakit ya?”
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut munggil Samuel yang merah. Dahinya berkerut dan bibirnya mendesah menahan sakit.
Sementara di luar kos, gerimis mulai turun.
Tubuh Samuel kedinginan. Tidak ada jaket atau selimut. Aku berusaha menghangatkan tubuhnya dengan menempelkan beberapa baju ke seluruh tubuhnya.
“Kita ke dokter ya?” usulku, meski aku sendiri tidak yakin mendapat pertolongan tanpa uang yang cukup. Orang miskin dilarang sakit! Kalau berobat harus pinjam sana-sini buat biaya berobat. Setelah sembuh kerja keras lagi buat bayar hutang.
Aku semakin bingung ketika Samuel tidak menjawab. Dia hanya mengerang dengan mata tertutup rapat.
Aku menggendong tubuh Samuel dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Entah kenapa aku takut kehilangan Samuel. Meski baru dua minggu mengenalnya. Rasanya seperti terjalin ikatan batin yang kuat diantara kami.
Sehari tanpa ocehan Samuel rasanya ada yang aneh. Pertanyaan-pertanyaan sering terlontar dari mulutnya hingga kadang aku kewalahan menjawabnya.
“Woi, mau ke mana loe?” sergah satpam rumah sakit ketika melihatku. “Enak saja main masuk!”
“Adik saya sakit, pak?”
Satpam tersebut memandangku dan Samuel berkali-kali. Mungkin dia bingung, aku yang pribumi memiliki adik yang keturunan Tionghoa.
“Bawa saja ke rumah sakit lain. Di sini bayarnya mahal. Ngga terima pasien kayak begini!”
Ya Tuhan? Apa rumah sakit ini hanya menerima pasien yang menaiki mobil mewah yang bisa di rawat di sini? Sementara orang miskin sepertiku tidak diterima?
Ketika satpam tersebut mengarahkan mobil mewah untuk mendapatkan parkir aku langsung menerobos masuk. Aku tetap nekat untuk masuk. Apa pun akan aku lakukan untuk Samuel. Satpam tersebut hanya pasrah dengan sikapku. Aku tidak menghiraukan tatapan orang yang melihatku basah kuyup tanpa alas kaki. Sandal nyang kupakai tadi putus. Mungkin sudah waktunya untuk diganti.
Aku tidak menghiraukan tatapan orang yang memandangku. Dinginnya AC menusuk hingga tulang sum-sumku.
*****
12915652261633796255
Empat hari kemudian.
“Hemofilia?” tanyaku kaget.
“Penyakit gangguan pembekuan darah dan diturunkan oleh melalui kromosn X,” ucap dokter muda yang cantik perawakannya memberiku penjelasan.
Aku menggagumi kecantikannya.
“Tapi selama ini tidak ada keanehan yang saya temui, seperti pendarahan yang terus menerus atau terjadi benturan pada tubuhnya yang mengakibatkan kebiru-biruan. Kalau boleh tahu, Samuel mengidap hemofilia A atau Hemofilia B, dok?”
“Begitu ya? Hemofilia B.”
Aku terdiam.
“Tidak hanya itu, hasil pemeriksaan menyatakan kalau dia juga positif HIV.”
Aku berdiri seperti patung. Samuel yang masih berumur enam tahun mengidap HIV? Ayah atau ibunyakah yang menularkan? Atau karena dia pernah menjalani transfusi darah dan ternyata Human Immunodeficiency Virus lolos dalam transfusi darah yang dijalanninya.
Kini aku tahu, kenapa tidak ada satu pun keluarganya yang mau menampungnya yang sebatang kara. Mungkin ayahnya meninggal karena HIV juga. Entahlah.
Aku menatap wajah pucat Samuel yang terbaring lemah dengan infus yang terpasang ditubuhnya. Selama Samuel di rawat tidak ada satu pun kata keluh kesah yang keluar dari mulutnya.
Masih jelas tergambar di memoriku pembicaraan kami berdua ketika mengajaknya makan di KFC di salah satu mal di bilangan Jakarta Barat.
“Samuel pengen kado natal!” Ungkap Samuel tiba-tiba begitu melihat nuansa natal yang menghiasi setiap penjuru mal.
“Mau kado apa?”
“Cuma pengen boneka Tazmania.”
“Nanti koko belikan kalau koko sudah punya duit. Beberapa harri ini belum ada tas yang laku. Nanti koko belikan boneka Tazmania yang gede.”
“Yang kecil juga ngga apa-apa kok.”
“Tapi jangan lupa berdoa ya.”
“So, pasti!”
Malamnya sebelum beranjak tidur, kembali dia mengutarakan keinginannya.
“Koko pasti belikan buat kamu. Berharap sebelum natal banyak tas yang laku.”
“Amin!” teriaknya memecah kesunyian malam.
Hatiku miris, seharian aku dan Samuel hanya minum air kran. Tidak ada duit yang tersisa.
“Maafkan koko, Samuel,” bisikku dalam hati sambil mengusap kepalanya.
Menit berikutnya.
Dia mengajakku berdoa. Biasanya aku yang mengajaknya.
“Tuhan… Berkati Ko Tara ya. Berkati pekerjaannya dan usaha on…”
“Online.” timpalku yang mengetahuinya kesulitan menyebut kata tersebut.
“Usaha onlinenya. Berkati juga bloknya.”
Aku tersenyum ketika dia menyebut kata blog dengak pemakaian huruf K dibelakangnya.
“Nama blognya apa ko?”
Kamarsolusi dot com,” ucapku dengan perlahan-lahan.”
“Berkati kamarsolusi dot kom ya Tuhan. Biar banyak orang yang diberkati.”
Aku terharu. Aku meneteskan air mataku.
*****
“Ko, aku mau pulang saja!”
“Kenapa sayang? Di sinikan enak? Ngga kayak di kos koko.”
“Tapi aku kasihan koko harus berhutang untuk bayar semuanya.”
Diam. Sesak.
“Kamu jangan pikirkan itu ya, sayang. Tuhan pasti cukupkan semuanya.”
Tidak ada pilihan selain meminjam uang dengan Ko Willy dengan jaminan gajiku di potong setengah dari seharusnya aku terima setiap bulan.
Sebatang kara seperti ini tidak bisa berharap pertolongan kepada keluarga. Ah, betapa indahnya kalau masih memiliki keluarga. Teman? Ini Jakarta. Uang ngga jatuh dari pohon kayak daun kering. Siapa yang mau memberikan pinjaman kepadaku tanpa jaminan apa-apa yang bisa disita kalau tidak mampu melunasi hutang yang ada? Memberikan pinjaman ke keluarga sendiri saja masih pakai hitung-hitungan. Kalau mau nyumbang harus di ekspos. Berharap kepada manusia memang sering mengecewakan.
“Kamu harus di rawat di sini supaya cepat sembuh.”
“Ko…. Maafkan aku.”
“Kenapa harus minta maaf?”
“Aku sudah merepotkan koko.”
Aku menggenggam tangannya. “Kamu tidak merepotkan kok. Percayalah! Koko malah senang bisa berkorban buat kamu.”
******
12915652635125962 

1291565283359961275 

1291565305740409917
Segala macam usaha telah di coba oleh tim dokter yang menangani Samuel. Sudah dua minggu terakhir ini berbagai obat pun silih berganti dimasukkan ke dalam tubuhnya.
Setiap hari berjam-jam aku menemaninya setelah pulang dari jaga toko. Mengobrol, bergurau atau kadang-kadang berdongeng untuknya.
“Ko, apa artinya meninggal dunia?”
Pertanyaan yang menghentakkan diriku yang lelah dan lapar. HIV sudah memorak-porandakan seluruh sistem pertahanan tubuh Samuel. Infeksi yang tidak terlalu berat pun dapat menimbulkan penyakit yang fatal.
“Artinya, kamu akan suatu tempat yang jauh. Tempat di mana kamu berasal.”
“Perginya sendirian?” tanyanya lemah.
Mataku berkaca-kaca. Namun aku mencoba untuk menahan agar air mata itu tidak jatuh.
“Sendirian. Tapi kamu jangan takut.”
“Kalau aku meninggal dunia, siapa yang akan menemani koko?”
Akhirnya air mataku juga jatuh. Diantara penderitaannya dia masih memikirkanku.
“Aku tahu, koko sering ngga makan biar aku kenyang. Koko sering jalan kaki pulang pergi ke toko biar bisa belikan aku sesuatu setiap hari. Nanti di sana, siapa yang motongin kuku Samuel?” ucapnya sambil meneteskan air matanya.
Aku memeluknya.
“Kamu ngga usah mikirin koko ya, sayang!  Tuhan pasti menjaga koko.”
“Nanti kalau aku sudah besar dan punya uang yang banyak. Aku mau belikan koko sebuah toko. Biar koko ngga usah kerja lagi. Trus belikan koko rumah dan mobil, biar kalau hujan bisa tetap tidur enak dan tidak perlu lagi jalan kaki.”
Mulutku tertutup rapat. Bungkam. Tak ada kata yang bisa melewati kerongkonganku. Di tengah rasa sakitnya, dia masih menyimpan sebuah impian. Bukan keluh kesah karena sakit yang di deranya.
******
1291565334890052374
Aku membawa sebuah boneka Tazmania kecil untuk Samuel. Samuel yang terbaring lemah memaksakan senyumannya.
“Ko…”
“Kenapa sayang?”
“Besok aku tidak bisa ikut koko natalan di gereja.”
“Ngga apa-apa.”
“Kamu suka ngga bonekanya?”
“Terima… kasih… ya, ko! Bonekanya bagus banget.”
“Maafkan koko ya. Koko ngga bisa belikan kamu boneka yang gede.”
“Ko, aku mau… kasih koko… kado.”
Aku tercengang!
“Aku cuma… bisa kasih lagu buat koko…”
Aku mendekatkan kupingku di wajah Samuel. Suaranya semakin pelan.
“Ku yakin saat Kau berfirman
Ku menang saat Kau bertindak
Hidupku hanya ditentukan oleh perkataanMu
Ku aman karna Kau menjaga
Ku kuat karna Kau menopang
Hidupku hanya ditentukan oleh kuasaMu
Bagi Tuhan tak ada yang mustahil
Bagi Tuhan tak ada yang tak mungkin
MujizatNya disediakan bagiku
Ku diangkat dan dipulihkanNya”
Air mataku terus jatuh ketika dengan susah payah dia menyelesaikan lagu tersebut. Meski sudah tidak ada lagi harapan Samuel tetap percaya mujizat itu ada.
“Selamat natal ya ko,” ucapnya dengan sangat pelan.
“Selamat natal juga sayang.”
“Ko…”
“Iya, sayang!”
“Koko bisa nyanyikan aku lagi malam kudus? Tapi pake bahasa inggris.”
Tanpa berpikir panjang aku memenuhi permintaan Samuel.
Silent night, holy night
All is calm and all is bright
Round yon virgin mother and child
Holy infant so tender and mild
Sleep in heavenly peace
Sleep in heavenly peace
Silent night, holy night
Shepherds quake at the sight
Glories stream from Heaven afar
Heavenly hosts sing halleluia
Christ the savior is born
Christ our savior is born
Silent night, holy night
Son of God
Love’s pure light
Radiant beams from thy holy face
With the dawn of redeeming grace
Jesus Lord at thy birth
Jesus Lord at thy birth
Halleluia!
Halleluia!
Halleluia!
Christ the savior is born
Tangan kanan Samuel mendekap boneka Tazmanianya sementara tangan kirinya menggengam tanganku.
Genggamannya makin lama makin lembut hingga tak ada lagi nadinya yang berdetak.
“Surga menantimu, pahlawan kecilku,” bisikku dikupingnya yang dingin.
12915653581392454104 

12915653731802124900
*****
TAMAT

http://www.kompasiana.com/dewaklasik

arti sebuah kehilangan

“Cinta baru sempurna jika terasa menyayat, seperti segumpal tanah liat yang akan baru tampil indah setelah dipahat. Cinta menjadi abadi jika tak terjangkau. Ibarat bumi selalu mengitari matahari. Karena tak mampu meraihnya, selamanya menjadi bayangan yang tak terengkuh….
Ditinggalkan jauh lebih menyakitkan daripada diputuskan. Namun lebih menyakitkan lagi ketika kita tidak mengerti bahwa terkadang Tuhan izinkan kita kehilangan seseorang untuk kebaikan kita sendiri….. Kehilangan akan membuat kita merasa rapuh tapi disisi lain kehilangan bisa membuat kita tegar.
Tetapi sesuatu yang hilang belum tentu meninggalkan kek
osongan, karena jejak-jejak yang ditinggalkannya tak pernah benar-benar hilang. Maka, mari belajar untuk mencintai kehilangan itu, karena ia adalah bagian alamiah dari hidup.
Kehilangan membuat banyak pelajaran dan pengalaman baru buat kita.  Kita dapat menerima dengan baik proses itu, menerima diri kita sendiri. Kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup.

Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan ketika kita kehilangan. Kemenangan hidup bukan berhasil mendapat banyak, tetapi ada pada kemampuan menikmati apa yang didapat tanpa menguasai. Pelajaran dari beberapa kehilangan, bahwa dalam setiap kehilangan ada pembelajaran yang membuat jiwa makin dewasa. Atau mungkin menjadi sebuah proses lepasnya sebuah ego dalam diri. 

Di saat kehilangan, kita jadi meringkuk seperti bayi yang tak punya kuasa. Menyadari bahwa sekuat apapun jiwa dan diri, setiap hidup tak pernah lepas dari kehilangan. Bahwa cerita di dunia ini bukan hanya celoteh kita, tapi ada celoteh lain yang harus didengarkan, dipenuhi dan dijalankan. Tak lain demi harmonisasi.

http://www.kompasiana.com/dewaklasik

9 Mar 2011

GOODBYE MY FIRST LOVE

09 March 2011

For the second time. I take the decision to forget him. I not sure that I can success. But I do my best. I stopped, not because I'm tired, but because I realized that to get out of this stupidity. Thanks to my friends, to help me to open my eyes and see everything, that I should not wait for him.

My special thanks is for you, my prince. Thanks for let me love you for five years. It all teach me many things about love. Pain, disappointment, and all the things that I feel for you, it's make me strong. Someday you will know how much I love you. You always be my unforgettable memories. Be happy with your girl. I pray for your happiness.

my last words for you :)


8 Mar 2011

A MAN WITHOUT TEARS (TUHAN-ku AJAIB!!)

 



Beliau pernah terkena penyakit kulit maha dahsyat yang sekarang meninggalkan jejak di matanya. Tidak bisa menangis lagi karena kelenjar air matanya sudah mampet akibat penyakit yang dialaminya. Melihat penampilan beliau ketika berkotbah, sepintas tidak ada perbedaan dengan orang lain pada umumnya, kecuali mata yang kelihatan agak basah … Jelas sekali panggilan beliau adalah sebagai hamba Tuhan. Samuel Irwan, sejak umur 14 tahun sudah melayani Tuhan, dan setahun kemudian sudah menjadi pengkhotbah cilik. Setamat SMA, Samuel Irwan melanjutkan pendidikan di Sekolah Theologia STT Tawangmangu. Di sekolah inilah Samuel Irwan mengalami pembentukan karakter lebih lagi, dan sebelum lulus Samuel Irwan bernazar, kelak akan melayani Tuhan sepenuh waktu, di manapun Tuhan akan mengutus dan menempatkannya.
TEMPAT MULAI MENJALANI NAZAR
Setelah lulus dari STT Tawangmangu, tahun 1993 Samuel Irwan menjalani masa praktek dan ditempatkan di Kecamatan Mangkupalas, Samarinda, Kalimantan Timur. Di tempat inilah ia mulai menjalani kehidupan sebagai hamba Tuhan sepenuh waktu. Semua dijalani dengan sukacita dan penuh semangat walaupun harus meninggalkan kehidupan nyaman di Surabaya dan menjalani kehidupan yang berat di Kalimantan dengan persembahan kasih yang sangat kecil. Hanya Rp 80.000 per bulan. Tinggal di rumah yang sangat sederhana, banyak tikus berkeliaran, mengepel rumah, mencuci pakaian dan piring di parit, membersihkan gereja, melayani sebagai pengerja di gereja adalah kegiatan yang dijalaninya hari demi hari. Tidak terasa sudah dijalani selama 2 tahun.
MERALAT NAZAR
“Bagaimana saya bisa berumah tangga dengan kehidupan ekonomi yang minim seperti ini?
Mana ada yang mau jadi istri saya?
Mana ada orang tua yang mau memberikan anak perempuannya kepada saya?
Bagaimana saya bisa menghidupi keluarga saya?”
Berbagai pertanyaan dan keluhan mulai menyesakkan hatinya di tengah-tengah kerinduan untuk mulai membina rumah tangga. Dan hatinya memang sudah mulai terpaut dengan seorang gadis cantik yang dikenalnya di pertandingan vocal group di sebuah gereja di Samarinda. Samuel Irwan mulai memikirkan untuk tidak lagi menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu. Apalagi banyak testi anak-anak Tuhan yang sukses dalam pekerjaan tapi juga tetap setia melayani Tuhan, membuat ia memutuskan berhenti jadi fulltimer dan mulai melamar pekerjaan sekuler. Ketika gembala sidang bertanya tentang nazarnya, Samuel Irwan berkata, “Saya meralat nazar saya.” Airmata dan perkataan gembala sidang, “Gereja memang nggak bisa memberikan gaji besar, tapi Tuhan mampu pelihara hidupmu…..” tidak mampu menghentikan tekad Samuel Irwan untuk berhenti jadi fulltimer gereja.
Berbekal ijazah SMA, kemampuan komputer dan Inggris, tahun 1995, Samuel Irwan diterima bekerja di sebuah perusahaan kayu. Benar-benar mulai dari posisi bawah , hanya sebagai operator radio. Karena keuletannya dalam bekerja dan kemampuannya di bidang komputer, hanya dalam waktu 5 bulan ia diangkat menjadi kepala produksi log di perusahaan kayu itu. Berkat finansial mulai mengalir dengan deras sehingga bisa mengontrak rumah, membeli perabotan, sepeda motor membuatnya yakin berada di track yang benar. Menikah dengan Erna S. Tjandra, di tahun 1996 dan dikaruniakan seorang putri setahun berikutnya membuat kebahagiannya semakin lengkap. Kedudukan tinggi di perusahaan, punya istri, anak, rumah, kendaraan.
What else could make him happier? Kalau dulu saat ingin bekerja di dunia sekuler, Samuel Irwan berkata kepada Tuhan, akan melayani Tuhan sambil bekerja, sekarang keinginan melayani sudah tidak prioritas lagi. Peringatan dari hamba-hamba Tuhan yang mengingatkan akan nazarnya tidak diindahkan.
Sampai…… .
STEVENS-JOHNSON SYNDROM (SJS)
2 Januari 1998, Samuel Irwan merasakan keluhan masuk angin, demam, tenggorokan sakit dan mata merah. Sepertinya sakit biasa. Berobat ke dokter mata, dan diberikan paracetamol untuk menurunkan demam. Keesokan harinya, ternyata demam tidak kunjung turun juga, malah mulai timbul bintik-bintik merah pada lengannya. Telapak tangan dan kaki terasa sakit dan nyeri jika memegang atau menginjak suatu benda keras. Berinisiatif sendiri untuk pergi ke dokter umum dan diresepkan obat pembunuh virus Zoter 400mg karena menurut diagnosa dokter ia terkena infeksi virus ditambah dengan obat penurun panas. Samuel tidak menceritakan kepada dokter umum itu bahwa ia juga diberi beberapa jenis obat oleh dokter mata. Selain itu ia juga membeli beberapa obat flu bebas dan jamu, apa saja yang menurut pengetahuannya bisa menyembuhkan gejala-gejala yang dialaminya. Setibanya di rumah, Samuel Irwan meminum semua obat dari kedua dokter tersebut, ditambah obat bebas yang dibeli sendiri, semua dengan dosis yang tertulis, karena ingin cepat sembuh. Akibatnya sungguh mengerikan karena mencampur sendiri beberapa jenis obat tersebut.
Bintik-bintik merah itu mulai melepuh dan gosong, dan mulai merambat sampai ke dada, tengkuk, leher, muka dan kondisi mata semakin memburuk, semakin merah. Kerongkongan, rongga mulut dan lidah juga melepuh.
Tidak cukup sampai di situ, kondisi ini semakin tambah parah karena di kulit seperti ada air dan nanah yang membusuk. Dirujuk ke RS di Samarinda, 7 Januari 1998 Samuel Irwan menjalani rawat inap. Salah seorang anggota tim dokter yang menangani, seorang dokter kulit mengatakan bahwa Samuel Irwan mengidap penyakit Stevens-Johnson Syndrome (SJS) stadium 3. Kondisi tubuh Samuel Irwan saat itu seperti orang yang terkena luka bakar 80%. Semua bagian tubuh tidak ada yang terluput; melepuh, gosong, dan bernanah, dari kepala sampai ujung kaki, kecuali paha dan betis.
DI BATAS AKHIR KEKUATAN
Samuel Irwan mengingat masa itu, “Kalau sedang tidur dengan posisi miring, dan tidak hati-hati dan pelan-pelan menggerakkan wajah ke posisi lain, maka kulit muka akan tercuil dan lengket di seprei. Pediihhh sekali…..”
Demam juga tidak kunjung turun, sampai 42 derajat Celcius, sehingga kalau sedang menggigil ranjang bergoncang dengan kerasnya seperti sedang gempa bumi. Harus dimasukkan ke ruang isolasi, bukan karena SJS ini adalah penyakit menular, tetapi karena takut penyakit pasien lain menular kepada Samuel Irwan yang dapat memperburuk keadaannya. Suatu hari mata yang selalu merah itu seperti kelilipan dan Samuel meminta suster untuk menyiram matanya dengan boorwater. Ketika bangun tidur, bukannya jadi baikan, ternyata malah kedua belah mata jadi putih semua, seperti ditutupi kertas HVS putih. Samuel Irwan sangat marah kepada para dokter dan suster yang merawatnya. Dan juga sangat marah kepada Tuhan, “Tuhaaaan…. . saya butuh mata ini untuk bekerja…..” Saat di batas akhir kekuatannya, saat mata tidak lagi bisa dipakai untuk melihat, Samuel Irwan minta pengampunan kepada Tuhan.
HE JUST WANTED ME TO TURN BACK TO HIM
Dokter di Samarinda semuanya sudah angkat tangan dan merujuk Samuel Irwan ke rumah sakit di Surabaya. Malam sebelum keberangkatan ke Surabaya, Samuel Irwan menyadari panggilannya kembali. Ia memanggil gembala sidangnya yang dulu, untuk berdoa minta ampun karena lari dari Tuhan. Saat itu Samuel Irwan berjanji jika Tuhan masih beri kemurahan untuk hidup maka ia akan melayani Tuhan sepenuhnya kembali. Dengan bantuan seorang gembala GBI di Samarinda, Samuel Irwan dibawa ke Surabaya. Kondisi Samuel saat itu tidak bisa berjalan lagi karena kaki juga melepuh. Saat akan naik tangga pesawat, karena tidak bisa berjalan, seorang portir yang tidak mengetahui penyakitnya, berusaha menolong dengan menggendong Samuel ke kabin pesawat. Gerakan tiba-tiba mengangkat Samuel yang sedang duduk di kursi roda, membuat kulitnya robek tertarik, dan Samuel menjerit keras sekali. Perjalanan yang sangat tidak mudah untuk sebuah harapan kesembuhan.
WALAUPUN TIADA DASAR UNTUK BERHARAP
Tim dokter yang menerima di Surabaya sangat kaget melihat kondisi tubuh Samuel Irwan. Mereka tidak menyangka kondisi Samuel sudah begitu parah sekali. Sebelumnya mereka pernah menangani pasien yang mengidap sakit SJS ini dengan kondisi hanya sepertiga dari kondisi Samuel. Pasien ini akhirnya meninggal dunia, …. apalagi Samuel? Saat baju dibuka untuk dirontgen, kulit punggung kembali robek. Warna yang putih dipunggung adalah daging yang kelihatan akibat kulit tersobek, dan warna merah adalah darah yang keluar. Detail hasil rontgen: lambung, pankreas, liver, bagian-bagian dalam tubuh, semuanya rusak. Sehingga diperkirakan Samuel hanya bisa bertahan 3 minggu. Karena sudah menjalani penyakit SJS ini sejak 2 Januari 1998, maka diperkirakan Samuel Irwan hanya bisa bertahan sampai 23 Januari 1998. Sehingga diminta untuk segera menghadirkan istrinya ke Surabaya, membawa anak mereka yang baru berusia 2 bulan. Seorang dokter kulit lulusan Jerman berkata, kalaupun Samuel bisa sembuh dari penyakit SJS ini, perlu 2 tahun untuk recovery kondisi kulitnya untuk kembali seperti semula. Dokter mata, yang juga lulusan Jerman berkata, kalaupun sembuh, akan buta selamanya, tidak ada lagi harapan untuk mata Samuel. Tiada dasar untuk berharap, namun Samuel Irwan tetap berharap kepada Tuhan seperti Abraham dalam kitab Roma,
Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”
Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.
Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,
dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
(Roma 4:18-21)
“A VIRTUOUS WOMAN’S PRICE IS FAR ABOVE RUBIES”
Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya?
Ia lebih berharga dari pada permata.
(Amsal 31:10)
Ayat ini layak ditujukan kepada Erna Tjandra, istri dari Samuel Irwan, yang dengan tekun merawat suaminya. Tidak pernah sekalipun menunjukkan kejijikan kepada suami yang sudah sangat hancur tubuhnya. Dengan kondisi yang sudah sangat berbau busuk dan amis, tidak pernah sekalipun Erna masuk ke ruangan isolasi dengan memakai masker. Tidak pernah sekalipun. Dengan setia ia merawat borok-borok di tubuh Samuel, menyikat gigi Samuel dengan jari-jarinya, membersihkan kotoran di ranjang, semua dilakukan tanpa mengeluh dan selalu tersenyum. Semua dilakukan dengan kasih. She showed us an unconditional love. Tidak terkira impartasi kekuatan yang diberikannya kepada sang suami yang sedang berjuang melawan maut. Erna berkali-kali menguatkan Samuel untuk tetap berharap kepada Tuhan.
PENDERITAAN TAK BERUJUNG ?
Rutinitas pengobatan Samuel setiap hari juga menjadi rutinitas penderitaannya.
Tubuh yang sudah melepuh, gosong, bernanah itu setiap hari harus diberi salep dan diperban. Esok paginya perban itu harus diganti. Ketika perban dibuka maka kembali kulitnya sobek dan menempel di perban tsb. Sakit sekali, dan harus dijalani selama 1,5 jam dari pukul 9 pagi sampai 10.30 siang. Setiap hari selama 1,5 jam berteriak-teriak kesakitan. Demikian juga ketika seprei akan diganti. Kembali kulit akan tersobek dan lengket di sprei. Dukungan dari istri dan pihak keluarga Samuel Irwan sangat besar sekali. Tak henti-hentinya mereka berdoa puasa rantai memohon kemurahan Tuhan untuk menyembuhkan Samuel. Tapi keadaan Samuel bukannya membaik, malah bertambah parah. Ke 20 kuku di jari-jarinya copot satu persatu, telapak tangan dan kaki menggelembung berisi air, telinga dan hidung melepuh mengeluarkan darah. Berat badan turun dari 68 kg menjadi 43 kg. Sistem reproduksi juga diserang sehingga diperkirakan kalaupun sembuh tidak bisa punya keturunan lagi. Keadaan Samuel bukannya makin sembuh, malah semakin parah.
BERNAZAR LAGI
Samuel kembali berkata, “Tuhan ampuni saya, … kalau saya sembuh, saya akan kembali melayani Engkau sepenuh waktu. Saya akan tinggalkan pekerjaan saya, saya akan bayar nazar saya. Terimalah tubuhku yang sudah busuk ini. Ampuni saya Tuhan….”
Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. (Mazmur 51:19)
Kalimat di atas dengan tulus dan hancur hati diucapkan seseorang yang pernah berbuat kesalahan dan kemudian kembali kepada Tuhan. Dialah Daud. Sejarah mencatat Tuhan memulihkan Daud. Bagaimana dengan Samuel Irwan?
GOD IS STILL DOING MIRACLE BUSINESS
Banyak orang yang undur imannya saat doa-doanya belum dijawab oleh Tuhan. Tidak percaya bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan, Tuhan sanggup menjawab doa. Tidak demikian dengan Samuel Irwan, beserta seluruh keluarganya. Juga orang-orang yang setia mendoakannya. Mereka begitu percaya kepada Tuhan dan belas kasihanNya, Tanggal 23 Januari 1998, tanggal dimana Samuel diperkirakan akan meninggal dunia, justru menjadi titik balik dalam proses kesembuhannya. Perawat yang seperti biasa tiap pagi merawat kulit Samuel, dikagetkan melihat kulit Samuel mulai mengering dan sembuh. Kekagetan itu bertambah dengan pertanyaan Samuel, “Suster…., saya ini dirumah sakit Adi Husada Kapasari Surabaya ya ?Dengan terheran-heran, suster balik bertanya, “Loh….kok bapak tau?”. Lalu Samuel menunjuk dengan jarinya sebuah tulisan berwarna merah yang tertera di sprei kasurnya sambil berkata, Ini ada tulisannya. Suster gembira sekali sambil berlari keluar memanggil dokter mata. Semua tim dokter yang menangai penyakit SJS ini heran sekali atas apa yang dialami Samuel. Mata bisa sembuh tanpa operasi. Bagian dalam tubuh seperti ginjal, liver, lambung, dll semua sembuh dan normal kemnali. 2 hari kemudian Samuel sudah bisa berjalan kembali, dan proses recovery berjalan dengan cepat. Tidak perlu menunggu sampai 2 tahun untuk kulit Samuel menjadi normal kembali, dan … sembuh tanpa operasi plastik (!!!) Penyakit SJS terparah yang pernah ditangani di RS tsb, sembuh total (bahkan kini Samuel Irwan sudah dikaruniai lagi anak perempuan ke 2, tanggal 31 Mei 1999, hanya setahun sesudah mengalami kesembuhan). Tuhan Yesus memang luar biasa. DAHSYAT !!!
MENETESKAN ‘TEAR DROPS’. EVERY 15 MINUTES !
Kulit Samuel Irwan menjadi normal kembali. Tidak ada bercak atau tanda sedikitpun yang menyiratkan bahwa ia pernah disiksa oleh penyakit kulit ganas tsb. Kecuali matanya. Kalaupun dipaksakan untuk mengeluarkan air mata, maka otot kelopak mata atas dan bawah seperti diperas dan terasa sakit sekali. Sehingga mau tidak mau, Samuel harus menggunakan tetes air mata buatan. Saat berkotbah tiap 15 menit sekali Samuel Irwan meneteskan air mata buatan agar matanya tidak kering dan lengket, tapi semua itu tidak menyurutkan semangatnya melayani Tuhan. Obat tetes mata yang digunakan saat ini adalah buatan USA “Refresh Liquidgel” berharga $24 per botol, dan habis digunakan dalam 3 hari saja. Belum lagi karena obat ini harus dipesan dari Singapore, maka total biaya untuk pengganti air mata yang harus disediakan perbulan adalah sebesar Rp 3.000.000,-.
BETAPA MAHALNYA TETESAN AIR MATA !!!
Tidak sedikit uang yang sudah dihabiskan untuk pengobatan mata dan pengadaan air mata buatan. Selama 12 tahun tidak punya air mata (tahun 1998-2010), biaya yang dihabiskan sudah sekitar 1,6 Milyar. Hanya untuk air mata !!! Itu sebabnya di awal tulisan ini saya berkata, berbahagialah kalau masih bisa menangis. Pertama, tingkatan stress bisa diturunkan saat menangis, sehingga kita tidak menjadi depresi. Kedua, tidak perlu bayar M-M an untuk air mata.
Jarak pandang yang hanya sekitar 1 meter, membuat Samuel Irwan harus membawa keker (binocular) saat berada di bandara supaya tidak salah memilih gate dan dan membaca no pesawat. Ada kesaksian yang luar biasa saat Samuel Irwan sedang berada di Changi, Singapura, sedang transit menunggu pesawat ke Jepang dan Amerika. Seorang polisi India menegur dengan keras mengira Samuel sedang memakai kamera. Dengan tegas ia menegur, “No camera in this airport, sir!”. Samuel menjelaskan bahwa itu binocular untuk menolong membaca karena matanya tidak bisa membaca jarak jauh. Singkat cerita, Samuel berusaha meyakinkan polisi India tsb dan memperlihatkan bagaimana Tuhan Yesus menyembuhkannya dari penyakit SJS, sambil menunjukkan foto-foto diri saat menderita SJS yang ada di mobile phone nya. Samuel berkata, “Tuhan menyuruh saya ke Jepang dan Amerika untuk memberitakan kebaikanNya. Apakah Bapak bisa menolong saya menunjukkan meja yang harus saya datangi untuk check-in?”
Apa yang terjadi? Polisi itu menangis.
Ia berkata, “Sebelum saya menolong Anda, Anda harus tolong saya.” Ternyata sehari sebelumnya polisi ini bertengkar hebat dengan istrinya dan istrinya minta cerai. Anak mereka juga jadi anak berandalan, tidak bisa dikendalikan. Sebuah rumah tangga yang sangat berantakan. Ia berkata bahwa banyak orang yang menceritakan Yesus sanggup mendamaikan keluarganya, tapi ia pikir semua itu omong kosong. Dan sambil menyentuh tangan Samuel Irwan, polisi itu berkata, “Ini kulit baru, sungguh ini bukti nyata.” Saat itu juga ia minta dibimbing untuk terima Tuhan Yesus. Sesudahnya, saat mengantar Samuel Irwan boarding ia berkata, “I never feel peace like this, … thank you.” Di kursi pesawat, Samuel Irwan merenung…. , Tuhan….kalau memang mata ini bisa membuat orang yang suka mengeluh menjadi bisa bersyukur, bisa membuat orang berdosa diselamatkan. …, mata saya tidak disembuhkan tidak apa-apa Tuhan…, karena saya bersyukur mata ini bisa memuliakan Tuhan….”
MENCERITAKAN KEBAIKAN TUHAN
Melalui semua yang dialaminya, Pdt Samuel Irwan sudah pergi ke berbagai tempat di Indonesia, bahkan melayani sampai ke bangsa-bangsa untuk menceritakan kebaikan Tuhan. Banyak orang yang dijamah Tuhan dan disembuhkan, bukan hanya orang yang sakit secara fisik, tetapi juga orang yang sehat tapi sudah jauh dari Tuhan. Merasakan kembali kasih Tuhan dan mengambil keputusan untuk kembali kepada Tuhan.
“DALAM KELEMAHANKU, KEKUATANNYA DINYATAKAN”

Pernah suatu ketika obat tetes mata sudah habis, sementara pesanan dari Singapura terlambat datang. Ketika botol itu kosong, terjadi mujizat. Setiap kali diteteskan ke mata, obat tsb masih menetes, walaupun kalau botolnya digoncang tidak ada bunyi apa-apa karena memang sudah kosong. Botol kosong itu terus meneteskan air mata buatan setiap kali digunakan, sampai pesanan obat baru dari Singapura datang. Ketika kembali diteteskan, botol kosong tsb tidak mengalirkan apa-apa lagi, karena penggantinya sudah datang. Jarak pandang yang hanya 1 meter tidak memupuskan semangat Samuel Irwan untuk belajar lagi dan menyelesaikan pendidikan S1 Theologia di STT Duta Panisal Jember. Walaupun saat kuliah harus membawa alat bantu seperti binocular dan kaca pembesar agar bisa membaca lebih jelas. Kegigihannya dan semangat pantang menyerah juga dibuktikan dengan melanjutkan sampai study Magister dibidang Biblical Strata 2, dan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Masih belum cukup, seakan berpacu dengan waktu, Samuel Irwan meneruskan study penggembalaan dan penginjilan di Haggai Institute Hawaii USA. Semua dilakukan dalam segala kelemahan yang dimilikinya. Tapi kekuatan Tuhan yang menopangnya, membuat Samuel Irwan mampu melalui semuanya dengan baik.
GOD IS GOOD. ALL THE TIME.
Berbeda-beda interpretasi orang yang mendengarkan kesaksian bapak Pdt Samuel Irwan Santoso,S.Th, MA, yang sejak tahun 2006 hingga sekarang menggembalakan jemaat di GBI Bontang, Kalimantan Timur. Tapi yang tertanam di hati saya, adalah :
TUHAN ITU BAIK
Bahkan ketika beliau diijinkan mengidap penyakit SJS, di mata saya itu bukanlah penghukuman karena suatu kesalahan. Tapi cara Tuhan untuk membawa beliau kembali kepada panggilanNya. Karena besar kemuliaanNya yang akan Dia tunjukkan kepada kita semua melalui pelayanan beliau.
TUHAN ITU BAIK
Tuhan tidak pernah meninggalkan beliau, bahkan saat berjalan dalam lembah bayang-bayang maut.
Terbukti dari biaya pesawat dan pengobatan ke Surabaya, (saat itu harga-harga obat melambung tinggi karena krisis moneter), semuanya ditanggung seorang pengusaha di Samarinda, yang bukanlah orang percaya, tapi digerakkan hatinya oleh Tuhan untuk memikul beban itu. Juga biaya air mata buatan yang tidak sedikit selama 12 tahun ini, (Milyar….bo’ ) yang tidak mungkin sanggup dibeli oleh beliau, semua disediakan Tuhan melalui orang yang berbeda-beda yang digerakkan hatinya oleh Tuhan.
TUHAN ITU BAIK
Kalau teman-teman dan saya diijinkan untuk mendengar atau membaca kesaksian ini, pasti karena Tuhan ingin kita lebih bersyukur lagi menjalani hari-hari yang tidak semakin baik ini. Kalau sedang menangis di hari-hari ini, bersyukurlah, karena semua air mata kita itu gratis dari Tuhan. Bayangkan kalau kita harus bayar Rp 3 juta per bulan hanya untuk air mata? Dan sekalipun saat ini kita sedang menangis, Tuhan ingin kita semua tahu, bahwa Ia tidak pernah meninggalkan perbuatan tanganNya. Melewati lembah bayang-bayang maut sekalipun, kita tidak takut bahaya, karena Tuhan menyertai kita.

http://tettystak.wordpress.com/2010/05/29/air-mataku-tidak-lagi-menjadi-makananku/