11 Agu 2014

Terima Kasih MATRAPALA

Entah kenapa tiba-tiba dua tahun yang lalu saya memutuskan masuk dalam dunia pecinta alam. Padahal saya termasuk orang yang tidak senang kotor-kotoran. Bayangin pipis ditoilet yang bau aja uda males banget. Apalagi harus pipis ditempat terbuka, gak mandi berhari-hari, kalo pup harus waspada dan cuma bisa dibersihin pake tissue basah, masuk kedalam gua yang penggap dan bau, gosong, lebam-lebam, lecet. Sampai sekarang kalau ditanya alasannya saya juga bingung harus jawab apa. Intinya saat ini saya sudah menjadi bagian dari pecinta alam. Bagian dari Matrapala.

M1310 mengubah saya, tidak lagi menjadi saya yang dulu. Saya mempunyai keluarga baru karena nomer keanggotaan ini. Keluarga yang benar-benar keluarga, dalam segala hal. Susah, sedih, senang, mereka ada. Keluarga yang over over perhatiannya, sampai terkadang buat saya terharu. Ga mudah memang buat menjadi bagian dari mereka, banyak proses yang harus dilalui, banyak sifat-sifat yang harus dikalahkan walau pun belum sepenuhnya hilang. Rasa takut contohnya, sudah pernah saya kalahkan ketika harus melakukan Single Rope Technic (SRT) Italian Rappelling (meluncur kebawah menggunakan tali dengan posisi badan telungkup) dari ketinggian sekitar 40 meter. Rasa lelah berjalan jauh dengan membawa beban hampir 20kg selama berjam-jam. Dan semua bisa saya lakukan karena mereka, saudara-saudara yang selalu menyemangati saya.

Ketika saya lelah, mereka dengan sabar menunggu dan menyemangati saya. Ketika saya kedinginan sampai hampir hypothermia, mereka dengan sigap membungkus saya dengan jaket, membuat minuman hangat untuk saya. Ketika saya berjalan dengan kondisi kurang fit, mereka bahkan rela membantu membawa carrier saya. Ketika carrier saya miring karena packing yang kurang baik, mereka akan memarahi saya sambil membantu membenarkan walaupun akan berujung pada telatnya waktu perjalanan. Ketika saya takut dengan bergabungnya saya dalam tim pendakian akan merepotkan mereka, mereka malah dengan senang hati menerima saya walau mereka tau mungkin pada akhirnya saya akan menyusahkan mereka. Merekalah sumber kekuatan saya. Saya tidak pernah merasa sendiri ketika berada ditengah-tengah mereka. 

Terima kasih MATRAPALA. Terima kasih untuk keluarga besar tersolid, saudara-saudara terbaik, pelajaran, pengalaman, dan kenangan-kenangan yang kamu berikan. 

Awal mula bergabung dengan MATRAPALA, MP CAMP 2012
Puncak Pertama, Welirang
Kalimati, Semeru (walaupun belum sampai puncak)
M1310
Puncak Penanggungan
Gua Embluthuk
Rock Climbing, Lembah Kera, Malang Selatan
Puncak Rinjani
Pulau Senang-Senang, Gili Trawangan
Petra Parade
Tretes
UKM Bakti Negara untuk Gn. Kelud

6 Agu 2014

My Trip, My Adventure

Awalnya seperti mimpi (secaranya setiap kali naik gunung ijinnya susah, apalagi ini udah gunungnya diluar pulau, tinggi pula), kemudian jadi resolusi di 2014 ini, nemuin tim yang punya mimpi sama dan akhirnya terwujud. Ditunggu berbulan-bulan, setiap hari dicountdown, dan sampai juga diharinya. Harus diakui perjalanan kali ini bener-bener seperti dream comes true, ijin didapat dengan mudah, tim yang seru, teman-teman yang mendukung, walaupun tetap diimbangi beberapa halangan, seperti soal biaya, waktu, sampai hal-hal diluar logika. Here I'll share about this trip ~

20 Juli 2014
Yuhuuuu~
Hari yang paling ditunggu-tunggu selama 3 bulan terakhir. Hari yang menjadi penyemangat untuk beberapa dari kita yang sibuk dengan Tugas Akhir. Pukul 13.00 WIB berangkatlah kita menggunakan pesawat Lion Air dari Surabaya menuju Lombok. Dan sempat terjadi insiden lari-lari karena hampir ketinggalan pesawat. Sampai di Lombok kita sempat beberapa jam di bandara mencari kendaraan menuju Sembalun sembari menunggu satu teman kita yang berbeda pesawat. Sekitar jam 17.30 WITA Dhika sampai dan Gege (teman saya yang tinggal di Lombok dan membantu kita selama berada di Lombok) datang menjemput. Sebelum pulang dan packing terakhir kita mampir di sebuah supermarket untuk melengkapi ransum yang belum terbeli karena keterbatasan bagasi pesawat. Beberapa jam ini adalah jam-jam paling sibuk kita, tidak menemukan spritus, beras dan telur dikarenakan waktu yang sudah lumayan larut malam. Setelah selesai packing dan bersiap-siap istirahat tiba-tiba sesuatu yang cukup menegangkan terjadi. Adik dari Gege, Veve, memberitahu kita untuk tidak berangkat malam itu karena "sesuatu hal". Banyak pertimbangan dan demi keselamatan bersama kita pun memutuskan menunda keberangkatan menjadi besok malam. Kejadian ini membuat kita semakin dekat dalam satu tim, karena jujur saja sebagai satu tim kita jarang sekali punya kesempatan untuk berkumpul bersama.

21 Juli 2014
Seharusnya jika sesuai jadwal, hari ini kita sudah memulai perjalanan menuju puncak tertinggi ketiga di Indonesia. Seharusnyaa.... tapi tidak masalah, yang penting semua aman terkendali. Hari ini kita memutuskan untuk beristirahat mengumpulkan tenaga sembari menjelajah Lombok. Penjelajahan hari ini dimulai dengan makan siang di Depot ManaLagi di Mataram, depot ini terkenal dengan pangsit mie babi dan kuah telurnya. Untuk informasi aja, sambel milik Pulau Lombok itu pedes banget, jadi buat yang ga suka pedes jangan pake sambel banyak-banyak yaa.. Perjalanan berikutnya dilanjutkan menuju Pantai Senggigi.



Kemudian dilanjutkan dengan menikmati Es Kelapa sembari menunggu sunset di Malibu Point.

Sunset pertama dalam perjalanan ini

Puas menikmati matahari Pulau Seribu Mesjid ini, perjalanan dilanjutkan dengan menikmati malam didaerah Udayana dengan Odong-Odong. Pernah nyobain racing dengan Odong-Odong?? Hahahahah.. Pemananasan betis sebelum besok mulai mendaki Rinjani. Dan ditutup dengan makan malam khas Lombok Plecing Kangkung, Ayam Bakar Taliwang, dan Mesre Taliwang.


22 Juli 2014
Memulai perjalanan bersama para bule dan porternya
Memulai perjalanan panjangggggg dan melelahkannnnnn !!! Tepat pukul 03.00 WITA dari Mataram kita menuju Sembalun yang menghabiskan 2,5 jam perjalanan menggunakan mobil. Kesalahan karena kurangnya informasi, mobil yang kita gunakan sangatlah mahal Rp 900.000 untuk dua mobil innova. Pukul 05.30 WITA kita sampai di Sembalun, sambil menunggu pos perijinan buka kita mencari sarapan. Pos perijinan buka pukul 07.00 WITA dan dikenakan biaya Rp 5.000 per-orang setiap harinya. Dalam trip ini kita menggunakan jasa guide, guide kita adalah Pak Ar dengan biaya Rp 150.000 per-harinya. Untuk mempersingkat waktu sekitar 1-2 jam, kita juga menggunakan pick-up dari pos perijinan menuju pintu hutan dengan biaya Rp 70.000 per-mobil (bisa mengangkut 8-10 orang dengan carrier). Kita memulai perjalanan tepat pukul 08.00 WITA dari pos perijinan. Pos perijinan - pos 1 memakan waktu sekitar 3 jam dengan jalur sabana, hampir tidak ada pohon sama sekali. Kita sampai di pos 1 sekitar jam 11 siang (kebayang panasnya?). Pos 1 - Pos 2 sekitar 2 jam dengan jalur hutan dan sedikit sabana. Dan Pos 2 - Pos 3 sekitar 3 jam, jalurnya? sabana yang lebih sabana lagi. Di pos 3 akhirnya kita memutuskan untuk mendirikan tenda dan beristirahat sekitar pukul 15.00 WITA. Untuk informasi, dari pos perijinan - pos 3 walau pun sabana, jalurnya ga landai sama sekali, terus nanjak dan berdebu. Disinilah ujian emosi, fisik dan mental kalian diuji. Bayangkan ketika kalian berjalan susah payah membawa carrier berbobot 20kg bahkan lebih, dibawah terik matahari dengan jalur terbuka yang terus menanjak dan berdebu, kemudian disalip dan disapa dengan turis asing ber-day pack kecil karena makanan dan tenda mereka sudah diangkut porter-porter.
Tempat teduh terakhir sebelum sabana terik yang menguras emosi

Manusia-manusia kuat
Pos 2 menuju Pos 3
Pemandangan mendekati Pos 2, melihat pemandangan ini yang kita rasakan hanya satu IRI
makanan enak, sudah tersaji, tempat istirahat nyaman dan telah disiapkan.
Ada kualitas ada biaya.
Perjalanan ini perjalanan yang panjang, menguras emosi dan tenaga kita ditutup dengan makan siang terlambat kita yaitu ayam kecap dan sambel goreng tuna. Dan diakhiri dengan makan malam capcay dan telor ham.

23 Juli 2014
Ini yang ditakuti dan akhirnya harus dihadapi, 7 bukit penyesalan!! Seperti namanya, jalur yang menguji emosi, fisik dan mental yang kedua, 7 bukit dengan jalur kering yang berdebu selama 7 jam perjalanan. Perjalanan dimulai pukul 10.00 WITA dan tiba di Plawangan pukul 17.00 WITA dengan kabut tebal dan grimis hujan. Dalam perjalanan ini saya sempat jatuh dan menyebabkan tulang ekor saya terluka sehingga perjalanan menjadi cukup terhampat karena pinggang yang nyeri, selain itu saya juga sempat mengalami gejala hipo karena kedinginan. Hari ini ditutup dengan menu makan siang sekaligus makan makan malam, Sop Ham, Sambel Goreng Rempelo, dan Kering Kentang.


Pemandangan sore hari di Plawangan

24 Juli 2014
Time to Summit !! Pukul 02.00 WITA kita bangun dan membuat Oat untuk sarapan. Dan tepat pukul 03.00 WITA kita berangkat menuju puncak. Jalur berbatu krikil, pasir dan juga debu. 7 jam perjalanan kita tempuh, dengan suhu dingin. Seperti kata teman-teman saya "kita kesini untuk puncak Rinjani, sunrise hanya bonus" itulah penyemangat kita (atau mungkin sebenarnya saya) ketika mental sudah hampir drop, saat matahari mulai memunculkan sinarnya, dan saat para turis asing sudah mulai berjalan kembali ke camp terakhir mereka, sedangkan kita baru separuh jalan!!
Sunrise hanya bonus

Semua terlihat mudah, ini tempat kita mulai putus asa dan mulai ngelantur
Because success come from support
Tepat pukul 10.00 WITA saya menginjak PUNCAK RINJANI. Mental dan fisik yang mulai habis berhasil kita kalahkan dengan tekad, usaha dan dukungan. Ketika masih separuh perjalanan, ketika para bule sudah berjalan turun, ketika matahari sudah mulai membakar kulit, dan kita masih terus mendaki dengan air yang mulai menipis (ini kesalahan, karena tidak mengira perjalanan ke puncak segini melelahkannya). Hanya tekad dan saling mendukung yang membuat kita berhasil. Air mata tumpah begitu menginjakkan kaki pertama kali, dalam hati saya berkata "kamu berhasil, nes! kalian berhasil!". Keindahan yang kita nikmati dari puncak membayar rasa lelah kita. Dan seperti sebuah keajaiban, di puncak kita menemukan air minum sisa pendaki yang ditinggal. Tanpa berfikir itu air apa, kita hanya meminumnya sambil terus bersyukur paling tidak ada sedikit tambahan air untuk perjalanan pulang.
3726 MDPL


Tiga view dari puncak tertinggi ketiga Indonesia. 

Sisi kanan, Danau Segara Anak
Sisi belakang, lautan awan
Sisi kiri, tebing-tebing batu
Naik susah, turun susah. 
Sungguhan Rinjani untuk kita diperjalanan kembali ke camp terakhir
3 jam perjalanan dari pukul 11.00 WITA - 14.00 WITA kita tempuh dari Puncak sampai kembali ke basecamp terakhir kita, Plawangan. Pertama kalinya untuk saya berjalan menembus awan, melihat indahnya Danau Segara Anak sembari berjalan pulang. Karena minimnya air dan camilan, kita berjalan dengan haus dan lapar. Satu perjalanan yang saya pelajari, betapa berharganya setetes air. Rencana yang seharusnya dilanjutkan menuju Danau Segara Anak kita batalkan karena kondisi yang sudah sangat lelah, kita pun putuskan untuk camp 1 malam lagi di Plawangan. Dan hari ini kita tutup dengan menu makan siang dan makan malam, Sop Merah dan Omelette.

25 Juli 2014
It's time to go home. Karena kondisi fisik dan waktu yang tidak sesuai, kita memutuskan untuk pulang. Start jalan pukul 11.00 WITA, dan menghabiskan 8 jam perjalanan untuk sampai kembali di Sembalun.
Pemandangan ketika pipis, pup, makan, bangun tidur kita
Diatas awan, berasa naik pesawat.


Terima Kasih Rinjani
Sampai Sembalun kita menggunakan pick up untuk kembali ke Mataram (Rp 450.000 per-mobil). Terima kasih Rinjani untuk 52km-nya, untuk pelajaran dan pemandangan luar biasa yang sudah kamu berikan. Sampai ketemu lagi.

26-28 Juli 2014
Menikmati Pulau Gili Trawangan, Lombok. Pulau dengan suasana yang sangat berbeda, yang akhirnya kita namai Pulau Senang-Senang. Kita akan merindukan masa-masa di pulau ini dan masing-masing berjanji dalam hati ingin kembali. Dari Pelabuhan Bangsal, Senggigi kita menggunakan kapal seharga Rp 13.500 menuju Gili Trawangan .
Nasi Bali Mbok Yan yang bikin nagih!
Makanan terakhir kita di Mataram sebelum berpindah ke Gili Trawangan
Pelabuhan Bangsal, Senggigi.
Perjalanan dari Bangsal menuju Gili Trawangan memakan waktu sekitar 25 menit.
Ala bule menuju cottage


Untuk menghemat biaya kita memasak sendiri menu makan siang, dengan bahan-bahan seadanya sisa ransum kita di Rinjani.

Our handmade banana pancake with honey sauce
Sausage with Rendang Sauce










 Happy to know you Gili Trawangan. Thank you for the beautiful moment, see you again!!!

28-30 Juli 2014
Bali, here we come!! Kita menuju Padang Bay, Bali menggunakan speed boat dari Gili Trawangan seharga Rp 250.000 dengan waktu sekitar 1 jam 20 menit. Ombak yang cukup besar sempat membuat perjalanan terasa cukup panjang. Di Bali kita jalan-jalan dengan menyewa sepeda motor seharga Rp 60.000 per-harinya.
Flapjaks !!
Burger King
Ini murah dan enak, SATE IKAN di Pantai Sanur. Hanya Rp 10.000 per-porsi
Hello Pandawa!


Terima Kasih Bali !

Terima kasih Rinjani. Terima Kasih Lombok. Terima Kasih Gili Trawanagan. Terima Kasih Bali. Terima Kasih Gege & Veve. Terima Kasih My Best Team (Jogang, Luwak, Korek, Petis, Bobby, Ween) untuk semangat dan kebersamaannya. Ini liburan paling sempurna, paling keren, paling asik yang pernah saya rasakan. Dari gunung, pantai, pulau, mall sampai pasar. Dari pesawat, bus, kapal, mobil, sepeda motor, pick up, sampai jalan kaki. Dari rumah, hotel, cottage, sampai tenda.

THIS IS MY TRIP, MY ADVENTURE !!