30 Mei 2016

Be The One with The One

Sharing yang ringan tapi cukup menyentuh dari Edward Suhadi.


“Bagaimana saya tahu kalau dia adalah ‘the one’?” 

Selalu pertanyaan itu muncul jikalau ngobrol dengan mereka yang umur-umur pacaran udah lama atau usia menikah.

Banyak pasangan yang sudah pacaran tahunan tapi belum berani melangkah ke jenjang yang lebih lanjut, karena mereka punya ketakutan besar yang cukup beralasan, yaitu bagaimana kalau nanti ternyata saya salah pilih?

“Selesai hidup gua.”

Bener juga sih.

Dulu saya merasa sudah menemukan jawaban atas pertanyaan ini dan selalu saya bagikan kepada para anak muda yang mencari jawaban untuk pertanyaan yang sama.

Jawabannya adalah: “Dia adalah pasangan hidupmu jika dengan keberadaan dia kamu menjadi orang yang lebih baik.”

Dan dengan panduan jawaban ini, saya dan banyak anak muda lain akhirnya memberanikan diri untuk berkata, “Iya, dia adalah orangnya.”

Tapi hari-hari ini saya sepertinya menemukan jawaban yang lebih mudah dijadikan panduan. Lebih akurat juga.

Bulan kemarin saya dan istri menangis berdua. Kita berdua itu menangis gak setahun sekali lho 🙂 Bukan pasangan drama.

Kita menangis tersedu karena sulitnya keadaan yang kita alami. Something very personal. Udah jarang merasakan kecewa atau sesuatu yang sedemikian sakit. Sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk frustasi, depresi, bahkan untuk menjadi saling membenci.

Saya bisa melihat pasangan-pasangan mengalami yang kita alami, lalu mereka mulai saling menyalahkan, mulai ga suka melihat satu-sama lain, dan di antara pertengkaran-pertengkaran yang dimulai dari hal-hal sepele, mereka mulai berharap-harap dan menerawang ‘andaikan-andaikan’.

Puji syukur kepada Tuhan, hal-hal ini tidak terjadi pada kita.

Saya nggak tahu pasti perasaan istri saya, tapi yang saya rasakan adalah kita berdua malahan semakin sayang.

Tapi bener.

Setelah air mata kita kering, yang tersisa justru rasa sayang yang lebih mendalam, kecupan-kecupan di kening yang lebih sering, lebih sering saling meledek dan tertawa, adanya semangat berjuang yang membara, dan kepala ini isinya pikiran-pikiran ‘ayo kita lewati ini berdua’.

Bukan artinya kita jadi pasangan sempurna yang ada di film-film. Francy masih kesel kalau saya nambah ketika makan, dan saya masih suka menengok kalau melihat wanita cantik lewat 🙂

We’re your ordinary, real-world real-life couple. Dengan begitu banyak kekurangan-kekurangan kita.

Tapi ketika ada hal berat yang kita hadapi bersama, kita jadi semakin dekat dan kuat, bukannya jadi semakin jauh dan lemah.

Inilah yang mau saya bagikan buat para anak muda yang lagi bingung di luar sana:

“Dia adalah ‘the one’, ketika dalam keadaan sulit, kalian jadi semakin dekat dan kuat.”


Ketika dia dipecat dari kerjaannya, ketika dia dihina keluarganya, ketika waktu kalian bersama berkurang banyak karena tekanan pekerjaan, ketika kalian ga bisa bayar kontrakan, ketika orang tua kalian tidak menyetujui hubungan kalian, ketika bisnisnya kandas untuk ketiga kalinya, ketika kelalaiannya membuat keluarga kalian susah, ketika dia harus terbaring berbulan-bulan karena sakit, ketika anak yang kalian idamkan ternyata lahir membutuhkan perhatian khusus, dan banyak-banyak lagi.

Di saat-saat sulit, apakah kalian jadi makin dekat, atau malahan berpikir, “Ini salah dia.”, “Jadi orang kok begitu amat?”, atau “Ngapain gua ada di sini sama dia?”


Buat yang pacaran, semoga panduan sederhana ini membantu kalian menemukan pasangan hidup yang tepat.

Buat hal-hal kecil dalam pacaran: motor mogok, ban mobil kempes, restoran tutup, kehujanan, sampai yang berat seperti keluarga menekan karena tidak setuju dengan hubungan kalian: coba periksa hati kalian.

Apakah jadi semakin dekat, sayang, kuat, atau malah sebaliknya? Karena hidup pernikahan nanti jauh lebih berat bos. Trust me 🙂

Dan buat yang sudah menikah, ingat, untuk kalian, ‘the one’ itu bukan dicari lagi. Sudah lewat mas, itu koran kemarin.

Menjadi “The one” itu harus dikerjakan.

Be the one.


7 Mar 2016

Dia Tidak Pernah Bermain-Main

Misi awal ku saat itu memulai hubungan dengan membawa nama Tuhan. Aku berencana membangun semuanya dengan mengikut sertakan Dia. Tapi seiring berjalan waktu, aku memang tidak meninggalkan Dia sepenuhnya. Tapi aku mulai menjalani hubungan ini dengan sangat duniawi. Aku mulai malas, mulai melupakan janjiku. Satu kali, dua kali, Dia tegur aku. Tapi tetap tidak membuatku sadar diri. Tidak gampang berikrar di kehidupan duniawi. Dia marah. Dia kacaukan segalanya. Dengan hal-hal yang tidak sempat terlintas dipikiranku. Hingga pada akhirnya, kekecewaan yang aku telan.

Disini aku hanya ingin mengingatkan, jangan sekalipun abaikan peringatanNya. Jangan! Dia tidak pernah bermain-main, apalagi kita mencoba bermain-main denganNya. Sekali di peringatkannya, benarkan diri kita segera, dan berubahlah! Karena tidak akan pernah ada peringatan yang kedua.

Tidak akan pernah ada kesusahan jika kita berjalan disisiNya dan mengandeng tanganNya. Akan selalu ada ketidaknyamanan dan kerikil tajam, tapi apa perlu kita takut, kalau kita tau Dia mengandeng tangan kita dengan penuh kasih? Cukup bersabar sebentar saja, kalahkan ego, kalahkan keinginan duniawimu, sesuatu yang indah menantimu selalu. Ketika kita haus akan Dia, mau bertumbuh dalam Dia, maka iman kita diperkuat dan sesuatu yang besar akan terjadi dihidup kita. Maka saat itu, jadikanlah diri kita pribadi yang selalu bersyukur, pribadi yang selalu rendah hati, pribadi yang semakin setia akan Dia.

Tidak perlu ragu dalam hal apa pun, apalagi mengkhawatirkan kuasaNya. Karena Dia sudah merancangkan waktu yang tepat untuk setiap kita. Tunggu saja sembari memproses diri menjadi hamba yang lebih baik, maka ketika itu waktuNya akan tiba. Yang terbaik akan diberikanNya untuk kita.


Ketika kita sudah mendapatkanNya, bersyukurlah! Kemudian berusahalah untuk membangun semuanya sesuai dengan landasan perintahNya, dan pulanglah selalu kerumahNya! Percayalah, segala sesuatu yang berlandaskan Dia, akan indah J

(by:agneskho/070316)


25 Mar 2015

FINALLY, GRADUATED!

07 November 2014

Gak banyak yang bisa diungkapkan ketika aku berhasil menyelesaikan tumpukan skripsi ku dan sidang akhirku. Kesusahan, air mata, semua terbalas dengan rasa yang tidak bisa diungkapkan. Ketika dinyatakan lulus, mungkin saat itu memang perasaanku tidak sebahagia orang lain karena satu masalah terjadi, tapi ku akui aku lega.

 Kata GAPICA "Mission Complete"
Dosen pembimbing terbaik dan dosen penguji ter... (isi sendiri :p)

28 Februari 2015
Aku menyebutnya hari peresmian, entah kenapa aku menunggu-nunggu hari ini. Aku menunggu-nunggu untuk menggunakan kebaya rancangan ku. Aku menunggu-nunggu tatapan bangga orang tua ku walau pun mungkin hasil ku tidak terlalu maksimal. Mulai hari ini aku bukan lagi anak-anak, aku sudah harus memikirkan masa depan ku.

Spot foto termainstream
Butuh 4,5 tahun untuk bisa berdiri disini memakai baju ini dan bersalaman dengan orang ini
BEST OF THE BEST PART OF MY LIFE

Best of the best supporting team
He know who I am
Congrats too Ayeng!
Congrats too Cemprenk!
Thankyou for coming sissy :*
Thankyou for coming dulur!
Thankyou for coming my best mate!
Nothing is sweeter than my GAPICA (I)
Nothing is sweeter than my GAPICA (II)
Best Team, Second Family!
Pada intinya, tidak akan ada Agnes saat ini tanpa mereka. Tidak akan ada Agnes yang bisa mengenakan toga tanpa dukungan, doa dan bantuan dari orang-orang di atas. Mereka yang terbaik. Meraka yang akan selalu ada dilist hidupku. Dan mereka akan tetap menjadi yang terbaik yang bisa aku andalkan. Terima kasih untuk waktu dan tenaga kalian untuk menjadikan Agnes menjadi seorang Agnes :)


Thankyou to Adrian Gozali untuk waktunya sudah mau membantu saya mengabadikan moment bahagia ini. Kata dia "Sekalian nyicil prewed" :p











And thankyou Merrysca Tan Bridal for the beautiful make up. You make me feel different and special ce :)


Last, thankyou Sister's for make this Modern Kebaya like my dream. Very stunning!



11 Agu 2014

Terima Kasih MATRAPALA

Entah kenapa tiba-tiba dua tahun yang lalu saya memutuskan masuk dalam dunia pecinta alam. Padahal saya termasuk orang yang tidak senang kotor-kotoran. Bayangin pipis ditoilet yang bau aja uda males banget. Apalagi harus pipis ditempat terbuka, gak mandi berhari-hari, kalo pup harus waspada dan cuma bisa dibersihin pake tissue basah, masuk kedalam gua yang penggap dan bau, gosong, lebam-lebam, lecet. Sampai sekarang kalau ditanya alasannya saya juga bingung harus jawab apa. Intinya saat ini saya sudah menjadi bagian dari pecinta alam. Bagian dari Matrapala.

M1310 mengubah saya, tidak lagi menjadi saya yang dulu. Saya mempunyai keluarga baru karena nomer keanggotaan ini. Keluarga yang benar-benar keluarga, dalam segala hal. Susah, sedih, senang, mereka ada. Keluarga yang over over perhatiannya, sampai terkadang buat saya terharu. Ga mudah memang buat menjadi bagian dari mereka, banyak proses yang harus dilalui, banyak sifat-sifat yang harus dikalahkan walau pun belum sepenuhnya hilang. Rasa takut contohnya, sudah pernah saya kalahkan ketika harus melakukan Single Rope Technic (SRT) Italian Rappelling (meluncur kebawah menggunakan tali dengan posisi badan telungkup) dari ketinggian sekitar 40 meter. Rasa lelah berjalan jauh dengan membawa beban hampir 20kg selama berjam-jam. Dan semua bisa saya lakukan karena mereka, saudara-saudara yang selalu menyemangati saya.

Ketika saya lelah, mereka dengan sabar menunggu dan menyemangati saya. Ketika saya kedinginan sampai hampir hypothermia, mereka dengan sigap membungkus saya dengan jaket, membuat minuman hangat untuk saya. Ketika saya berjalan dengan kondisi kurang fit, mereka bahkan rela membantu membawa carrier saya. Ketika carrier saya miring karena packing yang kurang baik, mereka akan memarahi saya sambil membantu membenarkan walaupun akan berujung pada telatnya waktu perjalanan. Ketika saya takut dengan bergabungnya saya dalam tim pendakian akan merepotkan mereka, mereka malah dengan senang hati menerima saya walau mereka tau mungkin pada akhirnya saya akan menyusahkan mereka. Merekalah sumber kekuatan saya. Saya tidak pernah merasa sendiri ketika berada ditengah-tengah mereka. 

Terima kasih MATRAPALA. Terima kasih untuk keluarga besar tersolid, saudara-saudara terbaik, pelajaran, pengalaman, dan kenangan-kenangan yang kamu berikan. 

Awal mula bergabung dengan MATRAPALA, MP CAMP 2012
Puncak Pertama, Welirang
Kalimati, Semeru (walaupun belum sampai puncak)
M1310
Puncak Penanggungan
Gua Embluthuk
Rock Climbing, Lembah Kera, Malang Selatan
Puncak Rinjani
Pulau Senang-Senang, Gili Trawangan
Petra Parade
Tretes
UKM Bakti Negara untuk Gn. Kelud

6 Agu 2014

My Trip, My Adventure

Awalnya seperti mimpi (secaranya setiap kali naik gunung ijinnya susah, apalagi ini udah gunungnya diluar pulau, tinggi pula), kemudian jadi resolusi di 2014 ini, nemuin tim yang punya mimpi sama dan akhirnya terwujud. Ditunggu berbulan-bulan, setiap hari dicountdown, dan sampai juga diharinya. Harus diakui perjalanan kali ini bener-bener seperti dream comes true, ijin didapat dengan mudah, tim yang seru, teman-teman yang mendukung, walaupun tetap diimbangi beberapa halangan, seperti soal biaya, waktu, sampai hal-hal diluar logika. Here I'll share about this trip ~

20 Juli 2014
Yuhuuuu~
Hari yang paling ditunggu-tunggu selama 3 bulan terakhir. Hari yang menjadi penyemangat untuk beberapa dari kita yang sibuk dengan Tugas Akhir. Pukul 13.00 WIB berangkatlah kita menggunakan pesawat Lion Air dari Surabaya menuju Lombok. Dan sempat terjadi insiden lari-lari karena hampir ketinggalan pesawat. Sampai di Lombok kita sempat beberapa jam di bandara mencari kendaraan menuju Sembalun sembari menunggu satu teman kita yang berbeda pesawat. Sekitar jam 17.30 WITA Dhika sampai dan Gege (teman saya yang tinggal di Lombok dan membantu kita selama berada di Lombok) datang menjemput. Sebelum pulang dan packing terakhir kita mampir di sebuah supermarket untuk melengkapi ransum yang belum terbeli karena keterbatasan bagasi pesawat. Beberapa jam ini adalah jam-jam paling sibuk kita, tidak menemukan spritus, beras dan telur dikarenakan waktu yang sudah lumayan larut malam. Setelah selesai packing dan bersiap-siap istirahat tiba-tiba sesuatu yang cukup menegangkan terjadi. Adik dari Gege, Veve, memberitahu kita untuk tidak berangkat malam itu karena "sesuatu hal". Banyak pertimbangan dan demi keselamatan bersama kita pun memutuskan menunda keberangkatan menjadi besok malam. Kejadian ini membuat kita semakin dekat dalam satu tim, karena jujur saja sebagai satu tim kita jarang sekali punya kesempatan untuk berkumpul bersama.

21 Juli 2014
Seharusnya jika sesuai jadwal, hari ini kita sudah memulai perjalanan menuju puncak tertinggi ketiga di Indonesia. Seharusnyaa.... tapi tidak masalah, yang penting semua aman terkendali. Hari ini kita memutuskan untuk beristirahat mengumpulkan tenaga sembari menjelajah Lombok. Penjelajahan hari ini dimulai dengan makan siang di Depot ManaLagi di Mataram, depot ini terkenal dengan pangsit mie babi dan kuah telurnya. Untuk informasi aja, sambel milik Pulau Lombok itu pedes banget, jadi buat yang ga suka pedes jangan pake sambel banyak-banyak yaa.. Perjalanan berikutnya dilanjutkan menuju Pantai Senggigi.



Kemudian dilanjutkan dengan menikmati Es Kelapa sembari menunggu sunset di Malibu Point.

Sunset pertama dalam perjalanan ini

Puas menikmati matahari Pulau Seribu Mesjid ini, perjalanan dilanjutkan dengan menikmati malam didaerah Udayana dengan Odong-Odong. Pernah nyobain racing dengan Odong-Odong?? Hahahahah.. Pemananasan betis sebelum besok mulai mendaki Rinjani. Dan ditutup dengan makan malam khas Lombok Plecing Kangkung, Ayam Bakar Taliwang, dan Mesre Taliwang.


22 Juli 2014
Memulai perjalanan bersama para bule dan porternya
Memulai perjalanan panjangggggg dan melelahkannnnnn !!! Tepat pukul 03.00 WITA dari Mataram kita menuju Sembalun yang menghabiskan 2,5 jam perjalanan menggunakan mobil. Kesalahan karena kurangnya informasi, mobil yang kita gunakan sangatlah mahal Rp 900.000 untuk dua mobil innova. Pukul 05.30 WITA kita sampai di Sembalun, sambil menunggu pos perijinan buka kita mencari sarapan. Pos perijinan buka pukul 07.00 WITA dan dikenakan biaya Rp 5.000 per-orang setiap harinya. Dalam trip ini kita menggunakan jasa guide, guide kita adalah Pak Ar dengan biaya Rp 150.000 per-harinya. Untuk mempersingkat waktu sekitar 1-2 jam, kita juga menggunakan pick-up dari pos perijinan menuju pintu hutan dengan biaya Rp 70.000 per-mobil (bisa mengangkut 8-10 orang dengan carrier). Kita memulai perjalanan tepat pukul 08.00 WITA dari pos perijinan. Pos perijinan - pos 1 memakan waktu sekitar 3 jam dengan jalur sabana, hampir tidak ada pohon sama sekali. Kita sampai di pos 1 sekitar jam 11 siang (kebayang panasnya?). Pos 1 - Pos 2 sekitar 2 jam dengan jalur hutan dan sedikit sabana. Dan Pos 2 - Pos 3 sekitar 3 jam, jalurnya? sabana yang lebih sabana lagi. Di pos 3 akhirnya kita memutuskan untuk mendirikan tenda dan beristirahat sekitar pukul 15.00 WITA. Untuk informasi, dari pos perijinan - pos 3 walau pun sabana, jalurnya ga landai sama sekali, terus nanjak dan berdebu. Disinilah ujian emosi, fisik dan mental kalian diuji. Bayangkan ketika kalian berjalan susah payah membawa carrier berbobot 20kg bahkan lebih, dibawah terik matahari dengan jalur terbuka yang terus menanjak dan berdebu, kemudian disalip dan disapa dengan turis asing ber-day pack kecil karena makanan dan tenda mereka sudah diangkut porter-porter.
Tempat teduh terakhir sebelum sabana terik yang menguras emosi

Manusia-manusia kuat
Pos 2 menuju Pos 3
Pemandangan mendekati Pos 2, melihat pemandangan ini yang kita rasakan hanya satu IRI
makanan enak, sudah tersaji, tempat istirahat nyaman dan telah disiapkan.
Ada kualitas ada biaya.
Perjalanan ini perjalanan yang panjang, menguras emosi dan tenaga kita ditutup dengan makan siang terlambat kita yaitu ayam kecap dan sambel goreng tuna. Dan diakhiri dengan makan malam capcay dan telor ham.

23 Juli 2014
Ini yang ditakuti dan akhirnya harus dihadapi, 7 bukit penyesalan!! Seperti namanya, jalur yang menguji emosi, fisik dan mental yang kedua, 7 bukit dengan jalur kering yang berdebu selama 7 jam perjalanan. Perjalanan dimulai pukul 10.00 WITA dan tiba di Plawangan pukul 17.00 WITA dengan kabut tebal dan grimis hujan. Dalam perjalanan ini saya sempat jatuh dan menyebabkan tulang ekor saya terluka sehingga perjalanan menjadi cukup terhampat karena pinggang yang nyeri, selain itu saya juga sempat mengalami gejala hipo karena kedinginan. Hari ini ditutup dengan menu makan siang sekaligus makan makan malam, Sop Ham, Sambel Goreng Rempelo, dan Kering Kentang.


Pemandangan sore hari di Plawangan

24 Juli 2014
Time to Summit !! Pukul 02.00 WITA kita bangun dan membuat Oat untuk sarapan. Dan tepat pukul 03.00 WITA kita berangkat menuju puncak. Jalur berbatu krikil, pasir dan juga debu. 7 jam perjalanan kita tempuh, dengan suhu dingin. Seperti kata teman-teman saya "kita kesini untuk puncak Rinjani, sunrise hanya bonus" itulah penyemangat kita (atau mungkin sebenarnya saya) ketika mental sudah hampir drop, saat matahari mulai memunculkan sinarnya, dan saat para turis asing sudah mulai berjalan kembali ke camp terakhir mereka, sedangkan kita baru separuh jalan!!
Sunrise hanya bonus

Semua terlihat mudah, ini tempat kita mulai putus asa dan mulai ngelantur
Because success come from support
Tepat pukul 10.00 WITA saya menginjak PUNCAK RINJANI. Mental dan fisik yang mulai habis berhasil kita kalahkan dengan tekad, usaha dan dukungan. Ketika masih separuh perjalanan, ketika para bule sudah berjalan turun, ketika matahari sudah mulai membakar kulit, dan kita masih terus mendaki dengan air yang mulai menipis (ini kesalahan, karena tidak mengira perjalanan ke puncak segini melelahkannya). Hanya tekad dan saling mendukung yang membuat kita berhasil. Air mata tumpah begitu menginjakkan kaki pertama kali, dalam hati saya berkata "kamu berhasil, nes! kalian berhasil!". Keindahan yang kita nikmati dari puncak membayar rasa lelah kita. Dan seperti sebuah keajaiban, di puncak kita menemukan air minum sisa pendaki yang ditinggal. Tanpa berfikir itu air apa, kita hanya meminumnya sambil terus bersyukur paling tidak ada sedikit tambahan air untuk perjalanan pulang.
3726 MDPL


Tiga view dari puncak tertinggi ketiga Indonesia. 

Sisi kanan, Danau Segara Anak
Sisi belakang, lautan awan
Sisi kiri, tebing-tebing batu
Naik susah, turun susah. 
Sungguhan Rinjani untuk kita diperjalanan kembali ke camp terakhir
3 jam perjalanan dari pukul 11.00 WITA - 14.00 WITA kita tempuh dari Puncak sampai kembali ke basecamp terakhir kita, Plawangan. Pertama kalinya untuk saya berjalan menembus awan, melihat indahnya Danau Segara Anak sembari berjalan pulang. Karena minimnya air dan camilan, kita berjalan dengan haus dan lapar. Satu perjalanan yang saya pelajari, betapa berharganya setetes air. Rencana yang seharusnya dilanjutkan menuju Danau Segara Anak kita batalkan karena kondisi yang sudah sangat lelah, kita pun putuskan untuk camp 1 malam lagi di Plawangan. Dan hari ini kita tutup dengan menu makan siang dan makan malam, Sop Merah dan Omelette.

25 Juli 2014
It's time to go home. Karena kondisi fisik dan waktu yang tidak sesuai, kita memutuskan untuk pulang. Start jalan pukul 11.00 WITA, dan menghabiskan 8 jam perjalanan untuk sampai kembali di Sembalun.
Pemandangan ketika pipis, pup, makan, bangun tidur kita
Diatas awan, berasa naik pesawat.


Terima Kasih Rinjani
Sampai Sembalun kita menggunakan pick up untuk kembali ke Mataram (Rp 450.000 per-mobil). Terima kasih Rinjani untuk 52km-nya, untuk pelajaran dan pemandangan luar biasa yang sudah kamu berikan. Sampai ketemu lagi.

26-28 Juli 2014
Menikmati Pulau Gili Trawangan, Lombok. Pulau dengan suasana yang sangat berbeda, yang akhirnya kita namai Pulau Senang-Senang. Kita akan merindukan masa-masa di pulau ini dan masing-masing berjanji dalam hati ingin kembali. Dari Pelabuhan Bangsal, Senggigi kita menggunakan kapal seharga Rp 13.500 menuju Gili Trawangan .
Nasi Bali Mbok Yan yang bikin nagih!
Makanan terakhir kita di Mataram sebelum berpindah ke Gili Trawangan
Pelabuhan Bangsal, Senggigi.
Perjalanan dari Bangsal menuju Gili Trawangan memakan waktu sekitar 25 menit.
Ala bule menuju cottage


Untuk menghemat biaya kita memasak sendiri menu makan siang, dengan bahan-bahan seadanya sisa ransum kita di Rinjani.

Our handmade banana pancake with honey sauce
Sausage with Rendang Sauce










 Happy to know you Gili Trawangan. Thank you for the beautiful moment, see you again!!!

28-30 Juli 2014
Bali, here we come!! Kita menuju Padang Bay, Bali menggunakan speed boat dari Gili Trawangan seharga Rp 250.000 dengan waktu sekitar 1 jam 20 menit. Ombak yang cukup besar sempat membuat perjalanan terasa cukup panjang. Di Bali kita jalan-jalan dengan menyewa sepeda motor seharga Rp 60.000 per-harinya.
Flapjaks !!
Burger King
Ini murah dan enak, SATE IKAN di Pantai Sanur. Hanya Rp 10.000 per-porsi
Hello Pandawa!


Terima Kasih Bali !

Terima kasih Rinjani. Terima Kasih Lombok. Terima Kasih Gili Trawanagan. Terima Kasih Bali. Terima Kasih Gege & Veve. Terima Kasih My Best Team (Jogang, Luwak, Korek, Petis, Bobby, Ween) untuk semangat dan kebersamaannya. Ini liburan paling sempurna, paling keren, paling asik yang pernah saya rasakan. Dari gunung, pantai, pulau, mall sampai pasar. Dari pesawat, bus, kapal, mobil, sepeda motor, pick up, sampai jalan kaki. Dari rumah, hotel, cottage, sampai tenda.

THIS IS MY TRIP, MY ADVENTURE !!