Hari ini hari yang membahagiakan
untukku. Ketika seorang temanku mengajak aku untuk pergi bersama teman-temannya.
Apakah kalian tau siapa yang aka nada disana? Dia !! Rasanya hati ini terbang
kelangit ketujuh, melompat-lompat girang. Tak hanya aku yang senang, tapi kedua
sahabatku yang mengetahui setiap detail perasaanku ikut bahagia untukku.
Akhirnya, aku bisa berkenalan dengan dia setelah 5 tahun aku hanya bisa menaruh
rasa padanya. Terima kasih untuk teman-temanku yang selalu membantu untuk
kebahagianku. Tanpa mereka mungkin tidak akan ada hari ini. J
Perasaan campur aduk dalam
perjalanan membuat tanganku dingin dan berkeringat. Deg-degan didalam hati ingin
membuatku mundur. Aku takut!! Takut menghadapi resiko yang ada nantinya. Tapi
teman-temanku terus menyemangatiku dalam perjalanan, sampai akhirnya kami tiba
di mall, mall yang akan menjadi saksi hari bahagiaku dengan dia. (I wish J)
Kaki ini lemas rasanya ketika aku
sudah sampai disuatu restaurant tempat kami janji bertemu. Apalagi begitu
melihat senyum penuh arti teman-temannya dan teman-temanku. Oh Tuhan beri aku kekuataan, jangan sampai
aku melakukan hal bodoh didepannya. Doaku dalam hati. Aku berusaha sebiasaku
untuk tersenyum semanis mungkin didepannya. Dan tiba waktu yang aku tunggu-tunggu
sekian lama. Sahabatnya yang juga temanku mulai memperkenalkan kami.
“Kenalin temen-temenku.” Katanya
memperkenalkan dan membiarkan kami saling berjabat tangan.
Detik itu, detik dimana dia
mengulurkan tangannya untuk menyambut uluran tanganku adalah detik awal dimana
semuanya seolah menjadi baik. Dibalik tampang diam dan angkuhnya ternyata dia
begitu ramah, walau memang dia tidak sesupel teman-temannya. Tapi paling tidak
dia sama sekali tidak jaim atau pun sok didepanku, apalagi menjauhiku. Karena
aku tau pasti diantara dia dan teman-temannya pasti sudah mengetahui tentang
aku yang menyukai dia sejak dulu. Lega rasanya. Semoga ini awal yang baik untuk
hubunganku, walau aku pernah berkata, aku tidak mengharap lebih.
999
Hari itu awal semuanya!! Bulan
November yang terindah yang pernah aku rasakan. Bertepatan dengan ulang tahun
ke 20nya saat itu, hubunganku dengan dia semakin erat. Entahlah aku GR atau
tidak, yang pasti sekarang aku mendapat jawabannya. Meski untuk meyakinkan
hatinya sendiri aku yang terbaik untuk dirinya membutuhkan waktu hampir satu
tahun, itu tak membuat aku bosan. Menunggu 1 tahun lagi untuk mendapatkan
semuanya bukan hal yang sulit, toh 5 tahun sudah ku lalui untuk menunggunya.
Beberapa jam lagi, aku akan
merayakan ulang tahunku yang ke19 dengan perasaan yang jauh berbeda
dibandingkan ulang tahunku sebelumnya. Pikiranku terus menebak-nebak hadiah apa
yang akan aku dapatkan dari dia nanti. Aku tak bisa tidur, mencoba menghabiskan waktu dengan online. Membunuh rasa deg-degan yang aku
ciptakan sendiri. Tepat 12.00 dilaptopku, pintu kamar kostku diketuk. Aku
membuka pintu dengan jantung yang berdegup semakin kencang. Dan didepan mataku
dia berdiri sembari tersenyum, menyodorkan sebuah kue tart kecil berhiaskan
lilin 19th.
“Happy birthday sayangg.” Ucapnya.
Aku hanya terdiam. Terpana dengan setiap kata yang diucapkan, terpana melihat
senyum yang terus mengembang dibibirnya. Oh
God ini hanya mimpi atau memang nyata?
“Kok diem aja? Ayo ditiup!!”
Panggilan anak-anak yang lain menyadarkanku. Aku menutup mata, memanjatkan rasa
syukurku. Lalu meniup lilin itu. Anak-anak kost dan sahabatku bergantin memeluk
dan mengucapkan wish mereka untukku.
“I
say from my heart and I can’t ignore anymore is I Love You. From now I want you
be my princess. Apakah kamu bersedia?”
Tanyanya. Matanya menatapku, tangannya menggenggam tanganku, sama sekali tak
menghiraukan banyak pasang mata yang menatap kearah kami. Wajahku panas,
tanganku dingin, jantungku berdetak tak karuan. Aku binggung harus bagaimana
menjawabnya. Matanya tak lepas sedikit pun menatapku. Aku melihat kesungguhan
disana. Dan satu hal yang tak pernah bisa ku lakukan, akhirnya ku lakukan di malam
yang akan menjadi sejarah percintaanku ini. Aku menguatkan hatiku menatap
matanya dan tersenyum manis. Aku memberinya jawaban lewat tatapan mataku.
Setelah itu tiba-tiba saja dia balas tersenyum dan menarikku kedalam
pelukannya. Jujur, yang aku tau this is
not his style. Dia pemalu, bahkan sedikit pun tidak romantis.
Sahabat-sahabatnya yang mengenal dia lebih lama dari pada aku pun mengatakan
itu padaku.
“Thanks
for give me a chance to love you more.” Bisiknya ditelingaku. Ketika dia
melepaskan pelukannya, sorak riuh dari anak-anak membuatku malu bukan main.
Potongan kue pertama pun akhirnya aku suapkan untuk dia, seseorang yang aku
kagumi beberapa tahun ini. Bahagia malam ini membuatku tidur nyenyak dengan
senyum indah. Semoga ini akan abadi. J
999
Tiga tahun
kemudian…
Bukan waktu yang singkat untuk suatu
hubungan. Tak terasa sudah 1095 hari kami saling mencintai. Waktu yang cukup
lama untuk anak muda seperti kami yang terkadang masih egois. Ternyata kami
berhasil melalui semuanya. Kami berhasil menjaga hubungan kami, walau pun
setahun belakangan ini dilalui dengan hubungan jarak jauh. Karena aku
memutuskan mengambil skripsi dan magang di Jakarta sesuai cita-citaku. Dia
mendukungku. Sama sekali tak mempermasalahkan jarak dan waktu yang mungkin akan
menggoyahkan hubungan ini. Dia percaya akan kekuatan cinta kami, dan itu
membuatku semakin yakin cinta ini akan bertambah kuat setelah melalui semua ini.
Dengan waktu yang berjalan itu juga,
tak hanya hubunganku dengan dia yang semakin dekat, tapi juga hubunganku dengan
keluarga besarnya dan sahabat-sahabatnya, begitu juga sebaliknya. Semua
menerima aku dengan tangan terbuka. Tak jarang aku diajak untuk ikut dalam
acara-acara keluarganya, diperkenalkan dengan keluarga besarnya. Bahagia dan
lega adalah perasaanku saat itu. Merasa diterima tanpa pernah dipandang sebagai
orang luar. Apalagi kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya. Mereka
menganggapku benar-benar seperti keluarga sendiri. Perasaan seperti ini yang
banyak diinginkan wanita-wanita lain diluar sana. Perasaan diterima dengan
terbuka oleh keluarga besar dan sahabat-sahabatnya. And thanks God, I get it.
Tepat ditahun ketiga anniversary kami dan diumurku yang ke22
tahun ini, dia berani mengajakku untuk membuat satu komitmen lagi. Suatu
perubahan yang lebih serius untuk hubungan kami kedepannya.
Malam itu sebenarnya aku cukup
sedih. Mengingat hari ini adalah anniversary
dan ulang tahun pertamaku yang benar-benar sendiri dikota metropolitan ini.
Tanpa sahabat-sahabat dekatku, tanpa keluargaku dan tanpa dia. Aku tidak
mendapat ijin untuk cuti walau hanya sebentar, karena program yang aku pegang
memang sedang kejar tayang. Aku duduk termenung dikamar kost kecil yang aku
sewa tak seberapa jauh dari stasiun tv swasta tempat aku bekerja. Menatap
laptop, sambil sesekali membalas sms yang masuk berisi ucapan selamat dari
teman-temanku. Dia, keluarga dan sahabat-sahabatku sudah menelpon tepat jam 12
malam tadi. Hanya itu yang aku dapat dari orang-orang yang biasa selalu
memberiku kejutaan di hari jadiku.
Tiba-tiba saja pintu kamar kostku
diketuk seseorang. Dengan malas-malasan aku berjalan membukakan pintu. Dan surprise…!! Dia berdiri didepan pintu
kamarku membawa tiramisu berukuran 4x4 dengan sebatang lilin kecil yang
menyala.
“For
the second time, Happy birthday my princess.” Ucapnya lalu memelukku dan menuntunku masuk kedalam
kamar, tanpa melepaskan sedikit pun pelukannya. “Heyy, uda dulu peluknya. Make a wish terus tiup lilinnya. Ntar leleh
ni.” Aku melepaskan pelukanku, berdoa beberapa saat dan meniup lilin itu. Dia
mencium keningku dan memelukku sekali lagi.
“Be
wise and more mature, beib. Love you.” Ucapnya disela-sela pelukannya. Aku
menangis. Menangis haru karena bahagia. Aku begitu rindu keberadaannya, dan malam
ini di hari bahagiaku dia tetap datang memberikanku sebuah kejutan kecil. Thanks God, he still give me the sweetest
gift through his actions. J “Ganti baju gih, kita makan malam.” Dia mendorongku
kearah lemari pakaian dan dia keluar menungguku didepan kamar.
Aku berusaha tampil secantik mungkin
dengan baju seadanya yang aku bawa dari Surabaya. Aku benci disaat aku tidak
bisa tampil beda dihari special
seperti ini. Aku keluar dari kamar dengan tampang sedikit kecut sembari
mengunci pintu.
“Kenapa lagi, kok mukanya dilipet
gitu?” Tanyanya menyadari wajahku yang sedang bête.
“Ga apa-apa. Ayuk!!” Ajakku, sembari
menggandeng tangan yang sudah beberapa bulan ini tak pernah ku genggam. “Kita
berangkat naik apa?” Aku baru sadar kalau kami tidak mempunyai kendaraan
disini.
“Nih.” Dia mengangkat sebuah kunci
mobil.
“Punya siapa?” Tanyaku bingung.
“That's
what friends are for.” Senyumnya kembali mengembang.
“Tau jalan emank?” Godaku.
“Udah tenang aja, kamu hari ini
tetap jadi ratu. Duduk diam disamping aku. Okay madam?” Dia membukakanku pintu
dan membiarkan aku masuk. “Kenapa sih kok bête?” Tanyanya dalam perjalanan.
“Kita mau makan dimana? Aku ga punya
baju bagus lho, ini doank yang paling bagus menurutku.” Kataku bete dan dia
tertawa.
“Jadi ini yang buat kamu bête? Emang
kenapa sama baju kamu? Bagus kok. Kamu tetap cantik.” Dia tersenyum, membelai
rambutku lembut.
Dia benar-benar mengenal setiap
jalan yang kami lewati. Seperti sudah lama tinggal dikota ini. Dan sampailah
kami disuatu café yang cukup sepi karena waktu yang memang sudah cukup malam.
Hanya terlihat beberapa orang yang duduk terpisah-pisah jaraknya. Pelayan café
itu mengantarkan kami kesuatu pojok café dengan view Jakarta dimalam hari.
Setelah memesan makanan, sembari menunggu dia mengajakku berbicara serius.
Melihat mimik wajahnya yang tiba-tiba berubah serius membuatku cukup tegang.
“Mau ngomong apa sih?” Tanyaku pelan
sambil terus mengamati perubahan wajahnya. Dia hanya diam dan menyodorkan
sebuah map coklat padaku. Aku mengambilnya dan membukanya pelan-pelan. And surprise again…!!
“Nilai terbaik dari mahasiswi
terbaik yang selalu berusaha. I’m proud
of you girl.” Selorohnya. Yah..itu surat dari kampus yang menyatakan aku
lulus dengan nilai baik, dan aku akan diwisuda Maret tahun depan. Satu mimpi
terbesarku berhasil aku lewati dengan baik. Mom,
Dad this is for you. Ucapku dalam hati.
Selesai makan, dia pergi
meninggalkanku dan berbisik-bisik dengan seorang pelayan. Entah hal apa lagi
yang dia siapkan untukku malam ini. Mengapa
dia mendadak jadi cowok super romantis malam ini? Pikirku lalu tersenyum sendiri. Dia kembali
membawa sebuah gitar yang dipinjamnya.
“Mau nyanyi? Emank kamu bisa?”
Tanyaku dengan polosnya. Dia hanya diam, tersenyum penuh arti. Beberapa saat
kemudian petikan gitar dan suaranya yang memang tidak seberapa bagus, tapi
mampu membuatku terhanyut. Dia mampu membuatku terdiam dengan setiap lirik yang
dinyanyikanya. Because of you-keith
martin, lagu favoriteku sejak dulu. The
third surprise from him…!!
Meletakan gitarnya, dia berdiri dan
duduk disampingku. Mengangkat tangan kananku dan memasukan sebuah cincin dijari
manisku. “I hope we can be more than just
dating. Aku ngerasa kita uda sama-sama dewasa, dan bisa melangkah untuk
komitmen yang lebih serius lagi. Gimana?”
“Serius?” Tanyaku masih binggung
bercampur shock.
“Emang aku keliatan becanda?” Dia
balik bertanya.
“Gimana dengan kedua orang tua
kita?”
“Aku uda bicarain ini semua sama
mama papa aku dan mama papamu, sebelum aku ngambil keputusan ini. Sekarang hanya
tinggal jawaban kamu yang aku tunggu.” Dia kembali menatap mataku tajam. Aku
mengangguk dan tersenyum padanya. Yah malah itu keputusan besar aku ambil lagi.
Aku siap melangkah bersama dia kedalam suatu hubungan yang lebih serius. Dia
memelukku erat. Empat hal berharga terjadi malam ini, ditanggal special ini.
999
Ketika acara wisudaku berlangsung,
kedua orang tuaku datang dari Kalimantan untuk menghadiri acara penting itu.
Ketika namaku dipanggil sebagai salah satu dari beberapa mahasiswa berprestasi
lainnya dan ketika kaki ini mulai melangkah menaiki podium, aku menyempatkan
menoleh melihat sinar kebahagian dan rasa bangga dari kedua mata orang tuaku.
Mereka tersenyum. Senyum samar. Tapi aku tau ada rasa yang begitu bahagia yang
mereka rasakan. Gemuruh tepuk tangan dari hadirin yang datang membuat mataku
tiba-tiba berkaca-kaca. Ingin sekali rasanya aku berlutut mengucap syukur pada
Tuhan saat itu juga. Aku terlalu terharu dengan semua yang Tuhan berikan padaku
sampai saat ini.
Ketika acara itu selesai, diluar aku
menemui kedua orang tuaku, tanteku yang selama ini menjagaku selama di
Surabaya, dia dan kedua orang tuanya. Aku hampir saja melompat kedalam pelukan
mama dan papaku. Aku memeluk mereka lama sekali, dan air mata pun tak mampu
kubendung. Aku menangis, begitu juga mama.
“Kamu sudah membuktikan kamu mampu
menjadi yang terbaik.” Bisik mama disela-sela pelukan kami. “Mama bangga sama
kamu.”
“Ini semua untuk mama dan papa.
Karena cita-citaku adalah membuktikan kalau aku mampu membuat kalian bangga dan
bahagia.” Jawabku. Setelah itu, bergantian mereka semua mengucapkan selamat
padaku. Siapa yang menyangka aku dapat lulus dengan nilai yang hampir sempurna,
padahal aku akui aku bukanlah anak yang pintar. Sering kali aku mengabaikan
tugas-tugas dan ujian-ujianku. Tak jarang aku bolos kuliah hanya karena aku
malas. Tetapi aku dapat membuktikan dengan itu semua aku tetap bisa menjadi
yang terbaik.
999
Setelah selesai hari wisudaku,
beberapa hari kemudian aku kembali ke Jakarta karena aku harus kembali bekerja.
Aku diterima menjadi karyawan resmi di stasiun tv tempat aku magang kemarin.
Jadilah aku kembali menjalani hubungan jarak jauh ini dengan dia. Tiap hari
hanya handphone dan internet yang menjadi media kami untuk berkangen-kangen
ria. Beberapa bulan sekali jika ada jadwal kosong dari kerjaku aku menyempatkan
diri untuk pulang. Bertemu dengan dia, keluargaku dan sahabat-sahabat kami.
Sedangkan dia, tetap bekerja disuatu perusahaan rokok terbesar di Surabaya.
Sesekali dia dikirim keluar kota untuk mengurus cabang atau hanya sekedar rapat
dengan beberapa manager dari cabang lain.
Begitu terus hubungan kami berjalan
selama setengah tahun ini. Pernah beberapa kali kami ribut. Ribut hal-hal
sepele. Mungkin hanya rasa kangen kami yang membuat kami jadi sedikit lebih sensitive.
Tapi kami mampu melewatinya. Terlalu banyak masalah lebih berat yang sudah kami
lewati. Pertengkaran-pertengkaran kecil kami itu hanya seperti bumbu untuk
hubungan kami ini.
Disuatu malam ketika aku sedang
punya jadwal untuk libur dan menyempatkan pulang ke Surabaya, dia mengajakku
makan malam diluar. Hal yang sangat jarang kami lakukan saat ini. Tiba-tiba dia
membahas masalah pernikahan. Dia merasa empat tahun waktu yang cukup untuk
memantapkan hati untuk hal ini. Dan jujur dia katakan, dia siap untuk membawaku
membentuk suatu keluarga kecil. Aku terkejut mendengar hal itu. Tapi aku juga
senang karena ternyata dia mengganggap hubungan ini bukanlah sesuatu yang
main-main. Aku menyanggupi tawaran dia. Dan malam itu juga dia membicarakan hal
itu pada kedua orang tuanya. Sesuai tebakan, kedua orang tuanya pun langsung
menyanggupi. Apalagi mereka melihat 25 tahun adalah umur yang cukup matang
untuk menjadi kepala rumah tangga. Kami
mengatur waktu, dalam tiga hari aku, dia dan kedua orang tuanya sudah ada di
Kalimatan untuk membahas masalah ini dengan kedua orang tuaku.
Malam setelah makan malam dengan
kedua orang tuanya, mama sempat menanyaiku lagi mengenai hal ini. Walau pun
mama memang tak keberatan sedikit pun tentang hal ini.
“Apa benar kamu siap? Pernikahan
bukan hal yang mudah lo.” Mama mengingatkanku.
“Aku yakin aku sudah cukup dewasa
untuk semua keputusan yang aku ambil. Dan aku yakin dia yang terbaik ma.”
Jawabku dewasa.
“Mama memberi hak sepenuhnya untuk
kamu, kalau kamu rasa dia yang terbaik. Ya sudah lanjutkan. Berdoa sama Tuhan
untuk lebih memantapkan hati kamu.” Nasehat mama. Malam itu, mama dan papa
benar-benar melepaskanku untuk menjadi milik orang lain. Dan malam itu aku
memantapkan hatiku untuk berkomitmen lebih jauh.
999
Tanggal sudah ditentukan. 06 Oktober
2015. Kami memutuskan tanggal bahagia yang menyimpan banyak kenangan itu
sebagai hari penikahan kami. Biar satu kenangan lagi tertoreh ditanggal itu.
Kami mulai menyiapkan segalanya. Karena tinggal 5 bulan lagi hari itu tiba.
Saat kami membahas tanggal perkawinan kami, dia dan kedua orang tuanya
memintaku untuk berhenti bekerja. Karena jarak Jakarta-Surabaya yang cukup jauh
memang cukup menjadi beban. Apalagi kami ingin merancang sendiri acara sakral
ini.
Tepat dibulan Agustus aku
mengundurkan diri dari stasiun tv tempat ku bekerja hampir setahun ini. Aku
kembali ke Surabaya. Mengurus semuanya. Dia menyerahkan sepenuhnya setiap
detail acara pernikahan ini padaku, walau pun setiap pengambilan keputusan
tetap kami putuskan berdua. Aku mengingat benar kata-kata dia hari itu “I just gave you a chance to realize your dream wedding. Because
I know, a beautiful wedding is the dream of all women” Begitu
ucapnya, membuatku tersenyum bahagia. Dan memeluknya erat.
Hari itu tiba, hari dimana aku memakai gaun putih anggun
impian semua wanita. Dituntun oleh papa menuju altar sebuah capel di Bali. Dan dia, dibalut tuksedo
putihnya berbalik menungguku dengan senyum bahagia layaknya seorang pangeran
didepan altar. Menerima tanganku yang diserahkan papa padanya, dan berlutut
menghadap altar didepan seorang pendeta. Setiap kata yang keluar dari mulut
pendeta itu pun mulai mengucapkan sebuah janji yang kami ucapkan dihadapan
Bapa. Dan ketika setiap doa dan janji itu selesai dibacakan. Kami saling
memakaikan cincin. Dia memelukku. Mengecup keningku lembut dan saat itu aku
resmi menjadi istrinya.
Dia menuntunku keluar. Kami menyambungnya dengan acara
resepsi kecil-kecilan untuk keluarga dan sahabat-sahabat kami. Private party. Disaat matahari mulai
terbenam berganti cahaya lampu dan lilin-lilin kecil yang menyala, membuat
suasana semakin romantis dan akrab kami berdansa. Ketika itu dia mencium
bibirku. Aku berhasil menjaga komitmenku untuk hanya memberikan ciuman
pertamaku untuk suamiku. Dan saat ini aku menyerahkannya pada dia. Suamiku.
Satu hari yang indah. Walau rasa lelah melanda seluruh
tubuku. Tetapi aku mengabaikan semuanya. Hari itu aku adalah ratunya, dan aku
harus berbahagia menyambut setiap tamu yang datang. Senyum juga tak pernah lepas
dari wajah dia. Tatapan penuh cintanya masih aku rasakan bahkan bertambah
dalam.
999
Keesokan harinya, kami berdua sudah terbang untuk
melanjutkan bulan madu kami. Dia membawaku untuk berkeliling beberapap negara
yang ada di Eropa. Sungguh pesta pernikahan dan bulan madu yang aku impikan.
Dia mewujudkan semuanya. Hampir satu bulan kami berjalan-jalan menikmati bulan
madu kami. Pergi dari satu negara ke negara lain. Merasakan bagaimana dinginnya
salju. Melihat bagaimana indahnya eiffel
dimalam hari. Mencoba romantisnya gondola di Venecia. Yahh itu hanya sebagian
kota yang kami kunjungi.
Sekembalinya kami dari bulan madu, dia kembali bekerja.
Dan aku hampir mati kebosanan dirumah. Karena aku hanya diberi tugas mengurusi
rumah. Sampai suatu malam, dia menanyakan tentang keinginanku dulu untuk
melanjutkan S2-ku diluar negeri disela-sela waktu kami sebelum tidur. Aku
mengatakan bahwa keinginan itu sepenuhnya tidak pernah hilang. Aku masih ingin
mengejarnya. Hanya saja aku sekarang tidak bisa lagi memutuskan itu sendiri.
Karena aku harus meminta persetujuan dia. Dan tiba-tiba saja dia menyodorkan
sebuah amplop coklat berlogokan nama perusahaan tempat dia bekerja. Ketika aku
membuka dan membaca setiap kalimat itu, aku menoleh menatapnya tanpa bisa berkata
apa pun. Surat pemindahannya ke Amerika untuk bekerja disana sembari meneruskan
S2. Dia mendapat beasiswa!!
“Aku ikut seneng. You
still the best!!” Ucapku lalu memeluknya.
“Dan artinya kamu juga bisa ambil S2 di US.” Dia memberi
tahu. Aku tersenyum membalas setiap kalimat yang dia ucapkan.
“Thank
you.” Selorohku lalu memeluknya hangat.
999
Beberapa bulan setelah malam itu,
kami berangkat. Kami tinggal di US entah untuk berapa lama. Yang pasti kami
akan bersama-sama mengejar impian kami disana. Masih ada gelar master yang
ingin kami capai. Dan karena itu, kami memutuskan untuk menunda keinginan kami
untuk punya anak.
Setahun sudah kami tinggal disana,
terpisah dari keluarga kami masing-masing. Sempat kami pulang beberapa bulan
yang lalu selama satu bulan. Menghabiskan waktu dengan keluarga dan
sahabat-sahabat kami. Pergi berlibur dengan mereka, melepaskan rindu kami akan
Indonesia dan Bali. Setelah itu karena memang hanya sebulan liburan musim panas
yang diberikan kampus kami, mau tidak mau kami harus kembali ke US. Meneruskan
kembali hidup kami disana.
Hanya butuh dua tahun, diumurku yang
ke 25 tahun dan dia 27 tahun kami telah berhasil menambahkan gelar itu
dibelakang nama kami dan masih dengan salah satu mahasiswa dengan nilai terbaik.
Dan dihari wisuda itu, Tuhan juga mengirimkan suatu kabar gembira untuk
keluarga besar kami. Aku hamil!! Tuhan menambahkan satu lagi hadiah untuk kami.
Kedua orang tua kami yang datang khusus untuk menghadiri wisuda kami terlihat
begitu bahagia saat itu. Rasanya sudah begitu tidak sabar untuk menimang buah
hati kami. Selama Sembilan bulan penuh aku diperlakukan dia layaknya seorang
ratu. Dia melayaniku dan menjagaku begitu ekstra.
Beberapa hari sebelum jagoan kecil
kami akan terlahir kedunia ini, kedua mama kami datang untuk membantu ku
mengurus anak pertama kami. Maklum ini pengalaman pertamaku dan jujur aku cukup
takut dan gugup menjalani semuanya. Tapi dia, terus berada disampingku. Bahkan
dihari kelahiran, dia dengan setia mendampingi aku. Menggengam tanganku erat.
Aku berjuang. Kali ini aku benar-benar merasakan bagaimana sakitnya mama dulu
saat melahirkan aku. Benar-benar mempertaruhkan nyawa demi aku. Dan kini aku
melakukan hal yang sama untuk jagoan kecilku. Ketika tangisan bayi pecah dan memenuhi
ruangan operasi, air mata dan senyum bahagiaku pun menetes. Dia juga terlihat begitu
lega. Dikecupnya keningku yang penuh keringat.
“You
did it, beib. Our little hero was born. You great!” Bisiknya. Aku tersenyum
lemah membalas kata-katanya.
999
Kelahiran anak pertama kami membuat
kami memutuskan untuk tetap menetap di US. Terlebih dia juga telah diangkat
menjadi manager tetap disana. Jadilah hari-hariku dirumah sebagai ibu rumah
tangga. Aku benar-benar mengurus sendiri rumah dan keperluan jagoan kecil kami.
Benar-benar merasakan bagaimana menjadi ibu rumah tangga yang seutuhnya. Oiya
aku hampir lupa, kami menamai jagoan kecil kami Keenan Standish Louis. Keenan kami
ambil dari bahasa Israel yang berarti Pemilik dan Standish dalam bahasa Inggris
yang mengartikan selalu diberkati dan kebahagiaan sedangkan Louis adalah nama
akhir dari dia. Kami menyimpan doa dibalik nama tersebut. Pemilik kebahagiaan
yang selalu diberkati. Kira-kira begitu artinya. Dan kami memanggilnya Ken.
Ketika Ken berumur 2 tahun, aku
melahirkan kembali seorang putri kecil yang kami namai Annabelle Samantha
Louis. Belle panggilannya. In English
Belle means beautiful. Sedangkan
untuk arti sebenarnya, Annabelle yang kami ambil dari bahasa Celtic berarti
kegembiraan dan Samantha dari bahasa Aramic yang berarti mendengarkan. Kami
mendoakan putri kecil kami selalu mendengarkan kegembiraan dimana pun dia
berada.
Mereka berdua kami rasa sudah cukup
untuk meramaikan kediaman kami. Apalagi kami juga memikirkan biaya hidup yang
tidak murah di Negara maju seperti US. Walau pun memang saat ini kami masih
mampu menghidupi mereka dengan cukup layak.
999
Sudah empat tahun lebih aku sama
sekali tidak pulang ke Indonesia. Aku rindu akan keluargaku dan teman-temanku
disana. Kami memang belum bisa pulang karena harus menunggu hak pindah warga
Negara kami keluar. Karena dengan segala pertimbangan kami memutuskan untuk
menjadi warga Negara Amerika. Selain karena pekerjaan dia yang memang
mengharuskan kami tinggal di US lebih lama lagi, juga kami memikirkan tentang
sekolah dan masa depan kedua buah hati kami.
Ketika hak pindah warga Negara kami
keluar, kami langsung merencanakan liburan kami satu keluarga ke Indonesia.
Kami membawa kedua buah hati kami untuk berkenalan dengan sanak saudara meraka
di Indonesia. Dirumah, kami berbahasa Indonesia dengan mereka. Walau pun memang
bahasa Indonesia mereka tidak seberapa fasih, paling tidak mereka mengerti
setiap bahasa yang kami ucapkan.
Sesampainya kami dibandara
Indonesia, mama dan papanya menyambut kami begitu hangat. Kami kangen dengan
panasnya Indonesia dan keramahan orang-orang Indonesia. Kami juga sempat
mengajak kedua anak kami pergi berlibur menikmati pantai-pantai indah di Bali.
Menunjukan pada mereka capel tempat dimana kedua orang tua mereka ini mengikat
janji dihadapan Tuhan. Tanpa terasa ternyata sudah hampir 8 tahun kami menikah.
Waktu berlalu begitu cepat.
999
Empat puluh dua
tahun kemudian…
Saat ini aku telah 72 tahun hidup
didunia ini. Beberapa hari lagi usiaku bertambah. Dan syukur aku masih diberi
kekuatan, kebahagiaan dan umur yang panjang oleh Tuhan. Begitu juga dengan dia.
Anak-anak kami sudah berhasil dalam pekerjaan dan keluarganya masing-masing.
Bahkan mereka masing-masing telah memberiku 2 pasang cucu yang lucu-lucu. Kami
masih menetap di US walau pun dia sudah pensiun cukup lama. Kembali ke
Indonesia tidak menjadi rencana kami karena kami merasa perlu mengawasi
kehidupan remaja kedua anak kami saat itu. US kota yang sangat kacau dengan
pergaulan bebas. Dan kami tak akan membiarkan kedua anak kami terjerumus dalam
hal-hal itu sebelum mereka cukup dewasa untuk hidup sendiri. Kami memang
tinggal dan telah menjadi warga Negara disana, tapi kebudayaan yang kami pegang
dan kami akui benar tetaplah kebudayaan timur. Karena tidak bisa kami pungkiri
didalam darah kami mengalir darah Indonesia yang sangat kental.
Aku, dia, kedua anak dan menantu
kami juga cucu-cucu kami terbang kembali ke Indonesia untuk liburan dan
merayakan hari jadiku yang ke 73 yang menjadi satu dengan hari anniversary
pernikahan kami yang ke 50. Gold Wedding
Anniversary. Tak terasa aku dan dia sudah sampai tahap itu. Dulu ketika aku
masih mencintai dia secara sepihak, tak pernah sedikit pun aku berfikir akan ada
hari ini. Tetapi rencana Tuhan indah untukku. Dan terjadilah hari ini. J
999
Prolog…
Dari awal ketika mata ini
menjatuhkan pilihan pada dia dan hati ini memutuskan untuk mencintai dia. Sama
sekali tak pernah terbesit didalam pikiranku sampai bisa sejauh ini bersama
dia. Aku dan dia benar-benar dipersatukan Tuhan dalam ikatan pernikahan, kami
hidup bahagia dengan anak-anak dan cucu-cucu yang membuat hidup kami terasa
lengkap. Sampai pada akhirnya dia pergi meninggalkanku untuk menyiapkan tempat
terakhir kami disana. Disisi Bapa. Setahun kemudian, aku menyusulnya. Diumurku
yang ke 80 dan di 57 tahun pernikahan kami, aku pergi menemui dia. Kembali
kesisinya. Memulai kehidupan kami yang baru dialam baru. Membangun kembali
rumah tangga kami untuk kedua anak kami yang nantinya juga pasti akan berkumpul
bersama-sama kami lagi. Disana kami juga berkumpul dengan orang tua kami yang
juga telah lebih dulu pergi mendahului kami.
Tanggal 6 bulan 10 menjadi hari yang
begitu banyak menorehkan kenangan untuk hidupku. Tanggal dimana aku dilahirkan
80 tahun yang lalu. Tanggal dimana aku bersatu dengan dia, cinta pertamaku
setelah aku menunggu selama 6 tahun. Tanggal dimana dia melamarku untuk
bertunangan sembari menyanyikan lagu favorite-ku. Tanggal dimana hasil wisudaku
keluar, dimana aku membuktikan aku mampu memberi kebanggan untuk kedua orang
tuaku. Tanggal dimana akhirnya hubungan kami dipersatukan di altar gereja
dihadapan Tuhan. Tanggal dimana dia dipanggil Tuhan untuk menyiapkan tempat
untukku. Dan tanggal dimana aku kembali mendampingi dia di dunia yang baru.
Mungkin menurut kalian semua cerita ini hanya khayalanku saja. Tetapi memang
beginilah kenyataannya. Ini benar rencana Tuhan untuk hidupku.
Enam tahun aku menunggu dia. Tiga
tahun kami berpacaran sampai dia mengajakku bertunangan. Dan Satu tahun
berikutnya kami sudah resmi menjadi suami istri. Lalu lima puluh tujuh tahun
kami hidup bersama. Pikirkan betapa sayangnya Tuhan padaku. Dia membalas
penantian dan pengorbananku selama enam tahun aku menunggu dengan segala sakit
yang aku rasakan, dengan enam puluh satu tahun bersama dia. God's has a wonderful
plan for both of us. J
~Happily
Ever After~
By: Agnes Kho
Surabaya, 03 November 2010