"Proposal dibatalkan, kita tidak boleh berangkat."
Satu kalimat singkat, padat, jelas dan menghancurkan semuanya.
Mungkin benar kata Ayu (salah satu teman pembinanan ku), kami yang terlalu bernafsu, sedangkan alam tidak mengijinkan. Mendaki butuh rendah hati bukan kesombongan. Karena puncak gunung bukan untuk ditaklukan atau dibuat pamer ketika sudah mencapainya. Puncak gunung adalah sarana kita untuk mendekatkan diri kepadaNya.
Kami terlalu sombong. Kami terlalu bernafsu mengapainya. Hal yang seharusnya tidak dilakukan seorang pecinta alam. Dan kami mendapatkan pelajaran dari rasa kecewa ini. Tidak gampang untuk kami semua mendapatkan ijin orang tua untuk mendaki puncak tertinggi Pulau Jawa ini, dan ketika ijin itu didapat dengan susah payah semua dihancurkan dengan satu kalimat. Bayangkan saja betapa kecewa, marah dan sedihnya ketika kamu mempunyai mimpi, mimpi itu sudah didepan mata dan tiba-tiba hilang.
Tetapi tekad kami sudah bulat. Kami para penjemput mimpi. Kami para pecinta kebebasan. Kami terlalu sering hidup dalam sangkar emas. Kami ingin bebas, keluar dari kenyamanan, bermain, berteman dan menyatu dengan alam. Tempat dimana kami berasal.
Alam tempat kita mendekatkan diri kepadaNya.
Alam tempat kita belajar rendah hati.
Alam tempat kita intropeksi diri, bahwa kita bukan siapa-siapa.
Alam akan mengajarkan arti keluarga dan persahabatan yang sesungguhnya.
DAN ALAM AKAN MENJADIKAN KITA SOSOK YANG LEBIH KUAT.
Walaupun besok ternyata kami tidak dapat mencapai puncak, paling tidak kami sudah menikmati lukisan karya Tuhan di Ranukumbolo, untuk membayar kekecewaan kami. Kami akan belajar banyak hal dari perjalanan ini, perjalanan yang atas nama persahabatan. SEMERU KAMI DATANG :))